Kamis, 12 Oktober 2017

Desain Sistem Instruksional



Desain Sistem Instruksional
Sistem instruksional adalah suatu kombinasi dari komponen-kompnen system instruksional dan pola pengelolaan yang tertentu, yang telah disusun dalam suatu desain atau seleksi, dan dalam pemakaian untuk menghasilkan belajar yang direncanakan dan terkontrol. Sistem instruksional adalah pengaturan seluruh sumber daya dan prosedur untuk mempromosikan belajar. Desain instruksional adalah proses sistematis untuk mengembangkan system pembelajaran dan pengembangan instruksional adalah proses penerapan sistem atau rencana instruksional. Pengembangan instruksional adalah implementasi dari perancangan/perencanaan instruksional. 

Perancang instruksional tidak selalu memiliki kesempatan untuk mengerjakan proyek lingkup nasional. Mereka umumnya merancang sistem instruksional yang lebih kecil seperti kursus, unit dalam kursus, atau pelajaran individu. Terlepas dari perbedaan ukuran dan ruang lingkup, proses perancangan sistem instruksional memiliki fitur umum di semua tingkat kurikulum. Desain sistems instruksional memiliki komponen yang lebih kecil dikenal sebagai desain instruksional karena fokusnya adalah bagian dari instruksi itu sendiri, bukan keseluruhan sistem instruksional.
Beberapa model cocok untuk desain pengajaran unit kursus dan pelajaran. Salah satu model yang banyak dikenal adalah model Dick dan Carey (1990) . Semua tahapan dalam model sistem instruksional yang dapat diterapkan dikategorikan menjadi satu dari tiga fungsi: (1) mengidentifikasi hasil dari instruksi, (2) mengembangkan instruksi, dan (3) mengevaluasi keefektifannya dari instruksi. Kita akan fokus pada kegiatan desain instruksional yang terjadi dalam sembilan tahap
Tahap 1: Tujuan Instruksional
Tujuan dapat didefinisikan sebagai keadaan yang diinginkan. Pada tahap ini, perancang instruksional harus bertanya, “Tujuan apa yang akan mewakili keadaan yang diinginkan?” Setelah tujuan telah dinyatakan, perancang dapat melakukan analisis kebutuhan. Ahli  (Burton dan Merrill, 1977; Kaufman, 1976) mendefinisikan kebutuhan sebagai sebuah perbedaan atau kesenjangan antara keadaan yang diinginkan (tujuan) dan keadaan saat ini. Oleh karena itu, kebutuhan bisa ditentukan setelah menyatakan tujuan dan analisis keadaan sekarang. Kebutuhan dan tujuan selanjutnya disempurnakan pada tahap 2 dan 3 dari proses perancangan, analisis instruksional dan analisis pembelajar (karakteristik siswa).


Ø Tahap 2: Analisis Instruksional
Tujuan analisis instruksional adalah untuk mengetahui keterampilan yang terlibat dalam mencapai suatu tujuan. Dalam hal ini, sang perancang akan menggunakan analisis tugas (atau analisis prosedural), produknya akan menjadi daftar langkah dan keterampilan yang digunakan pada setiap langkah dalam prosedur (Gagne, 1977).
Jenis analisis instruksional lainnya adalah analisis pemrosesan informasi, yang dirancang untuk mengungkapkan operasi mental yang digunakan oleh orang yang memiliki keterampilan belajar yang kompleks. Analisis ini dapat diartikan sebagai analisis proses internal yang terlibat dalam keterampilan yang diinginkan. Perkiraan penting yang dibuat untuk setiap keputusan dan tindakan yang diungkapkan oleh proses informasi. Analisis apakah peserta didik yang dimaksud sesuai dengan kemampuan ini atau apakah mereka perlu membelajarinya (tahap 3).
Hasil analisis instruksional yang penting adalah klasifikasi tugas. Klasifikasi tugas adalah kategorisasi hasil belajar menjadi domain atau subdomain jenis/model pembelajaran. Gagne (1985) menggambarkan lima jenis utama hasil belajar dan beberapa subtipe. Tugas Klasifikasi dapat membantu perancangan pembelajaran dalam beberapa cara. Target klasifikasi tujuan memungkinkan untuk memeriksa apakah tujuan yang dimaksudkan dari sebuah unit instruksional sedang diabaikan. Briggs and Wager (1981) telah mempresentasikan contoh bagaimana sasaran-sasaran dapat diklasifikasikan dan kemudian dikelompokkan menjadi unit kursus berupa peta instruksional kurikulum. Peta yang dihasilkan kemudian dapat ditinjau ulang untuk memeriksa apakah informasi verbal, sikap, dan keterampilan intelektual termasuk dalam unit instruksional. Klasifikasi hasil belajar juga menyediakan kondisi yang paling efektif untuk berbagai jenis hasil pembelajaran.
Jenis analisis akhir yang akan disebutkan adalah analisis tugas belajar. Sebuah analisis perangkat belajar yang tepat untuk tujuan pengajaran yang melibatkan keterampilan intelektual. Tujuan dari analisis tugas belajar adalah untuk mengungkapkan tujuan yang memungkinkan ada dan untuk mengambil keputusan urutan/langkah pengajaran yang perlu dibuat. Kemungkinan hasil analisis tugas pembelajaran adalah peta instruksional kurikulum (ICM) mirip dengan yang ditunjukkan pada Gambar 2-2. ICM ini menunjukkan tujuan targetnya dan tujuan bawahan mereka untuk unit instruksional pada kata pengolahan. Perancang mungkin perlu menerapkan salah satu atau semua jenis analisis ini dalam merancang satu unit instruksi.
Ø Tahap 3: Urutan Perilaku dan Karakteristik Pembelajar
Seperti yang ditunjukkan sebelumnya, langkah ini sering dilakukan secara paralel dengan tahap 2. Tujuannya adalah untuk menentukan keterampilan yang memungkinkan yang dibutuhkan peserta didik untuk tugas belajar. Beberapa peserta didik akan tahu lebih banyak dari yang lain, jadi perancangnya harus memilih dari mana memulai instruksi, mengetahui bahwa itu akan berlebihan untuk beberapa tapi perlu bagi orang lain. Perancang juga harus bisa mengidentifikasi para peserta didik untuk siapa instruksi itu tidak sesuai sehingga mereka dapat diberikan instruksi yang remediates. Biasanya tidak cukup bagi seorang desainer untuk menebak keterampilan apa yang dibutuhkan dari audiens yang dituju. Prosedur yang lebih baik adalah mewawancarai dan menguji keterampilan populasi sasaran sampai Anda cukup tahu tentang mereka untuk merancang instruksi dengan tepat.
Selain kualitas pembelajar seperti keterampilan intelektual yang jelas, perancang instruksi mestinya merasa perlu untuk membuat beberapa ketentuan untuk kemampuan dan sifat pembelajar, yang biasanya dianggap kurang mudah dan bisa berubah melalui pembelajaran. Kemampuan mencakup kualitas seperti pemahaman verbal dan orientasi spasial. Sifat kepribadian adalah aspek lain dari kemampuan belajar yang mungkin perlu dipertimbangkan dalam desain instruksional. Kemampuan dan sifat kontras dengan karakteristik pelajar sebagai keterampilan dan pengetahuan verbal; memiliki efek spesifik pada isi instruksi yang efektif.
Tahap 4: Tujuan Kinerja
Pada tahap ini, perlu merumuskan kebutuhan dan sasaran ke dalam kinerja tujuan yang cukup spesifik dan rinci untuk menunjukkan kemajuan menuju tujuan. Ada dua alasan untuk memulai dari tujuan umum hingga semakin meningkat ke objek spesifik. Yang pertama adalah bisa berkomunikasi pada level orang yang berbeda. Beberapa orang (misalnya, orang tua atau dewan direksi) adalah hanya tertarik pada tujuan, dan tidak dalam rincian, sedangkan yang lain (guru, siswa) membutuhkan tujuan kinerja yang terperinci untuk menentukan apa yang akan mereka ajarkan dan pelajari. Alasan kedua untuk meningkatkan rincian adalah memungkinkan perencanaan dan pengembangan dari bahan ajar dan sistem penyampaian. Berbagai jenis hasil belajar memerlukan perawatan instruksional yang berbeda. Untuk merancang bahan ajar yang efektif dan memilih sistem pengiriman yang efektif, perancang harus benar-benar menentukan kondisi belajar yang diperlukan untuk memperoleh informasi dan keterampilan baru. Alasan terakhir untuk akhirnya menyatakan semua tujuan dalam hal kinerja (bukan isi garis besar atau kegiatan guru) adalah untuk dapat mengukur kinerja siswa untuk menentukan kapan tujuan telah tercapai.
Fungsi tujuan kinerja adalah untuk (1) menyediakan sarana untuk menentukan apakah instruksi berhubungan dengan pencapaian tujuan, (2) menyediakan sarana untuk memfokuskan perencanaan pelajaran pada kondisi yang sesuai pembelajaran, (3) membimbing pengembangan ukuran kinerja pelajar, dan (4) membantu peserta didik dalam usaha belajar mereka. Dengan demikian, hubungan intim antar tujuan, instruksi, dan evaluasi ditekankan. Briggs (1977) disebut Ketiga aspek desain instruksional ini sebagai anchorpoint dalam perencanaan, dan dia menekankan kebutuhan untuk memastikan bahwa ketiganya sesuai dengan kesepakatan lain. Gambar 2-1 menempatkan pengembangan item uji sebelum pengembangan strategi instruksional Briggs (1977) juga menempatkan desain penilaian instrumen sebelum pengembangan pelajaran, dengan alasan bahwa (1) pemula adalah lebih mungkin untuk menyimpang dari tujuan dalam mengembangkan tes daripada dalam mempersiapkan pelajaran, dan (2) perancang yang baru saja selesai mengembangkan materi pelajaran mungkin secara tidak sengaja fokus pada konten daripada kinerja dalam membangun tes. Perancang berpengalaman, bagaimanapun, mungkin memilih untuk mengembangkan pelajaran sebelum mengembangkan ukuran kinerja.
Ø Tahap 5: Kriteria-Referensi Tes Item
Ada banyak kegunaan untuk ukuran kinerja. Pertama, mereka bisa digunakan untuk diagnosis dan penempatan dalam kurikulum. Tujuan pengujian diagnostic adalah untuk memastikan bahwa seseorang memiliki prasyarat yang diperlukan untuk keterampilan belajar baru. Uji item memungkinkan guru untuk menentukan kebutuhan individu siswa agar berkonsentrasi pada keterampilan yang kurang dan harus dihindari instruksi yang tidak perlu. Tujuan lainnya adalah untuk mengecek hasil belajar siswa selama kemajuan pelajaran. Pemeriksaan semacam itu memungkinkan untuk mendeteksi kesalahpahaman yang mungkin dimiliki siswa dan memulihkannya sebelum melanjutkan. Selain itu, tes kinerja diberikan pada akhir pelajaran atau unit instruksi dapat digunakan untuk mendokumentasikan kemajuan siswa untuk orang tua atau administrator. Tingkat penilaian kinerja ini dapat berguna dalam mengevaluasi sistem pembelajaran itu sendiri, atau keseluruhannya.
Evaluasi dirancang untuk menyediakan data, instruksi untuk diperbaiki, disebut evaluasi formatif. Mereka biasanya dilakukan saat bahan ajar masih dibentuk dan direformasi. Bila tidak ada perubahan lebih lanjut terhadap yang direncanakan dan kapan saatnya menentukan keberhasilan dan nilai kursus di akhir, evaluasi sumatif dilakukan.  Beberapa perencanaan ukuran kinerja sebaiknya dilakukan sebelum pengembangan rencana pelajaran dan bahan ajar karena seseorang menginginkan tes untuk fokus pada tujuan kinerja (apa yang harus dimiliki peserta didik) daripada pada apa yang pelajar telah baca atau apa yang telah dilakukan guru. Demikian ukuran kinerja dimaksudkan untuk menentukan apakah siswa telah memperoleh keterampilan yang diinginkan, bukan untuk menentukan apakah mereka hanya mengingat instruksionalnya presentasi.
Ø Tahap 6: Strategi Instruksional
Penggunaan istilah strategi kami bersifat nonrestrictive. Kami tidak bermaksud menyiratkan semua instruksi harus dalam bentuk modul instruksional mandiri atau materi yang dimediasi. Instruksi yang dipimpin oleh guru atau yang berpusat pada guru juga bisa mendapat manfaat dari desain sistem pembelajaran. Melalui Strategi instruksional, dimaksudkan agar sebuah rencana dibuat untuk membantu peserta didik dengan usaha studinya untuk setiap tujuan kinerja. Ini mungkin terjadi bentuk rencana pelajaran (dalam hal instruksi yang dipimpin guru) atau satu set spesifikasi produksi untuk bahan yang dimediasi. Tujuan strategi pengembangan sebelum mengembangkan materi itu sendiri adalah untuk menguraikan bagaimana kegiatan instruksional akan berhubungan dengan pencapaian tujuan. Saat instruksi yang dipimpin oleh guru, diatur instruksi kelompok, para guru menggunakan proses desain instruksionalnya untuk menghasilkan panduan untuk membantu menerapkan maksud rencana pelajaran tanpa harus menyampaikan isi pastinya kepada peserta didik. Guru memberi arahan, mengarahkan peserta didik ke materi yang sesuai, memimpin atau mengarahkan aktivitas kelas, dan melengkapi bahan yang ada dengan instruksi langsung. Di sisi lain, ketika pelajaran yang berpusat pada pelajar, pelajar dengan pembelajaran yang direncanakan, sebuah modul dipresentasikan kepada pelajar. Biasanya menyajikan suatu tujuan belajar, panduan aktivitas, materi yang akan dilihat atau dibaca, praktek/latihan, dan tes kompetensi untuk pelajar.
Tujuan dari semua instruksi adalah untuk menyediakan langkah instruksi. Mereka mencakup fungsi yang diakui secara luas seperti mengarahkan perhatian, menginformasikan pelajar tentang tujuan, menyajikan bahan stimulus, dan penyediaan umpan balik. Tidak masalah apakah kegiatan ini dilakukan oleh guru atau bahan ajar, asalkan berhasil dilakukan. Bisa dicatat lebih lanjut bahwa peristiwa instruksi ini berlaku untuk semua domain hasil pembelajaran. Perencanaan strategi instruksional adalah bagian penting dari proses desain pembelajaran. Pada titik inilah perancang harus bisa menggabungkan pengetahuan tentang teori belajar dan desain dengan pengalaman peserta didik dan tujuan. Tak perlu disyukuri, kreativitas dalam perancangan pelajaran akan meningkatkan pengetahuan dan pengalaman lainnya. Mungkin komponen kreativitas ini memisahkan seni desain instruksional dari ilmu desain instruksional. Jelas bahwa desain pelajaran terbaik akan menunjukkan pengetahuan tentang peserta didik, tugas tercermin dalam tujuan, dan efektivitas strategi pengajaran.
Ø Tahap 7: Instruksional Materi/Bahan Ajar
Kata materi disini mengacu pada media cetak atau media lain yang dimaksudkan untuk menyampaikan kegiatan instruksi.
Dalam kebanyakan sistem pengajaran tradisional, guru tidak merancang atau mengembangkan materi pelajaran mereka sendiri. Sebaliknya, mereka diberikan
bahan (atau mereka memilih materi) yang mereka integrasikan ke dalam rencana pelajaran mereka. Sebaliknya, desain sistem instruksional menggarisbawahi pemilihan dan pengembangan bahan ajar sebagai bagian penting dari usaha perancangan.  Beberapa prinsip umum mulai muncul. Pertama, yang lebih inovatif tujuannya, semakin besar kemungkinan bahwa sebagian besar materi harus dikembangkan karena mereka tidak mungkin tersedia secara komersial. Kedua, materi berkembang untuk sistem penyampaian tertentu hampir selalu lebih mahal daripada membuat pilihan dari yang tersedia. Ketiga, adalah mungkin untuk meminimaliasir biaya pengembangan dengan memilih bahan ajar yang tersedia dan mengintegrasikannya ke dalam sebuah modul yang menyediakan cakupan semua tujuan instruksi yang diinginkan. Keempat, peran guru dipengaruhi oleh pilihan sistem penyampaian dan kelengkapan materi karena guru harus memberikan apapun peristiwa yang hilang yang mungkin dibutuhkan oleh peserta didik.
Beberapa kurikulum dan sistem instruksional baru telah direncanakan dengan sengaja sejak awal baik untuk mengembangkan semua bahan baru atau untuk memanfaatkannya sebanyak mungkin materi yang ada. Alasan pertama adalah pastikan bahwa konsep, metode, tema, atau isi utama secara hati-hati dipertahankan. Karena program semacam itu sering dikenali sebagai percobaan, tambahnya biaya pengembangan dapat dibenarkan untuk menjaga kemurnian konsep asli. Di kasus keputusan untuk memaksimalkan penggunaan bahan yang ada, kemungkinan biaya menjadi pertimbangan utama dalam Proyek RENCANA (Flanagan, 1975). Pengembangan material menurut Carey dan Briggs (1977) dan Branson and Grow (1987) memberikan penjelasan umum tentang proses, dan Weisgerber (1971) memberikan beberapa dari rincian untuk sistem tertentu.
Ø Tahap 8: Evaluasi Formatif
Evaluasi formatif menyediakan data untuk merevisi dan memperbaiki bahan pembelajaran. Dick dan Carey (1990) memberikan prosedur rinci untuk tiga tingkatan proses evaluasi formatif. Pertama, bahan prototipe dicoba pada satu-persatu (satu evaluator duduk dengan satu pelajar) dengan perwakilan peserta didik sesuai kriteria. Langkah ini memberikan banyak informasi secara terstruktur dan masalah logistik yang mungkin dimiliki peserta didik dalam pelajaran. Perancang bisa mewawancarai pelajar atau memintanya "berbicara melalui" pikirannya terhadap materi. Sudah diperkirakan keefektifannya bahan ajar bisa ditingkatkan 50% hanya melalui penggunaan beberapa evaluasi satu per satu. Tingkat kedua adalah percobaan kelompok kecil, yang bahannya diberikan kepada sekelompok 6-8 siswa. Fokus ini adalah bagaimana siswa menggunakan materi dan berapa banyak bantuan yang diminta. Informasi ini dapat digunakan untuk membuat pelajaran lebih mandiri. Ini juga akan memberi rancangan ide yang lebih baik tentang efektivitas materi pada kelompok besar, nilai rata-rata siswa lebih representatif daripada nilai dari percobaan siswa satu lawan satu. Langkah terakhir adalah uji coba lapangan di mana instruksi, direvisi berdasarkan percobaan satu lawan satu dan kelompok kecil, kemudian diberikan ke seluruh kelas. Tujuan dari evaluasi formatif adalah merevisi instruksi seefektif mungkin untuk jumlah siswa terbesar. Tahapan pengembangan bahan ini mungkin salah satu yang paling sering diabaikan karena tahap akhir dalam proses desain dan merupakan upaya yang signifikan dalam perencanaan dan pelaksanaan. Namun, penggunaan sistem umpan balik untuk memperbaiki sistem merupakan inti dari filosofi sistem. Desain instruksional tanpa evaluasi formatif tidak lengkap. Lingkaran umpan balik pada Gambar 2-1 menunjukkan data evaluasi formatif dapat meminta revisi atau peninjauan produk karena informasi berasal dari tahap desain sebelumnya.
Ø Tahap 9: Evaluasi Sumatif
Studi tentang keefektifan suatu sistem secara keseluruhan disebut evaluasi sumatif. Istilahnya menyiratkan, evaluasi sumatif biasanya dilakukan setelah sistem melewati tahap formatifnya-bila tidak lagi menjalanipoint-bypoint revisi. Hal ini mungkin terjadi pada saat uji lapangan pertama atau sebanyak lima tahun kemudian, ketika sejumlah besar siswa telah diajar oleh sistem yang baru. Jika ada harapan bahwa sistem akan banyak digunakan di sekolah atau ruang kelas di seluruh negeri, evaluasi sumatif perlu dilakukan di bawah kisaran kondisi yang bervariasi.
Sebuah badan nasional, Joint Dissemination Review Panel (JDRP), bertemu secara berkala untuk meninjau bukti efektivitas produk pendidikan yang diidentifikasi berpotensi “sebagai percontohan”dan tepat penyebarannya. Ini adalah bentuk evaluasi sumatif, di mana sebuah tim dari evaluator mengaudit sebuah proyek percontohan untuk menilai bukti efektivitasnya. Bukti itu harus menunjukkan valid dan dapat diandalkan, efeknya harus cukup besar terhadap kepentingan pendidikan, dan memungkinkan berintervensi dalam produksi dan pengaruhnya di tempat lain "(Tallmadge, 1977; hal 2). Proyek melewati pemeriksaan panel, mungkin memenuhi syarat untuk mendapatkan dana dukungan penyebaran dari National Diffusion Network.
Prinsip – Prinsip Desain Instruksional (berdasarkan Teori Belajar / Psikologi  dan hasil penelitian) :
  1. Pengulangan respon yang menyenangkan (pengulangan)
  2. Tujuan tujuan instruksional yang jelas (penciptaan kondisi perilaku belajar, metode dan media)
  3. Pemberian penguatan (umpan balik nilai, pujian, penghargaan)
  4. Pemberian contoh dari alam nyata
  5. Pemberian contoh dan non-contoh
  6. Perhatian dan ketekunan
  7. Pemecahan materi menjadi lebih kecil
  8. Penggunaan model
  9. Pemecahan keterampilan umum menjadi keterampilan khusus
  10. Pemberian informasi kemajuan belajar
  11. Perbedaan kecepatan belajar (prasyarat / entry behavior)
Mengatur sendiri waktu, cara dan sumber
Model-Model Desain Instuksional
Ada banyak Model desain instruksional yang berkembang dalam dunia pendidikan dewasa ini, misalnya SAFE (System Approach For Education), Michigan State University Instructional Systems Development Model, Project MINERVA Instructional System Design, Teaching Research System, Banathy Instructional Development System, , Dick & Carey model, Kemp model , Three Phase Design Model, The 4CID Model, ARCS Model, dan banyak lagi model instruksional lainnya. Perkembangannya juga beragam sesuai dengan kondisi dan tujuan desain instru ksional tersebut diperuntukkan, yang jelas bahwa setiap model dimaksudkan untuk menghasilkan suatu system instruksional yang efektif dan efisien dalam memfasilitasi pencapaian tujuan instruksional. Pada dasarnya model instruksional yang ditawarkan memiliki prosedur yang hampir sama antara satu dengan yang lain, atau bahkan mengkombinasikan dari berbagai model yang sudah ada untuk kemudian diaplikasikan kedalam lingkungan pembelajaran yang kita hadapi.

Desain instruksional atau sering sebut perencanaan pengajaran, telah lama mendapat perhatian dari pakar pengajaran. Banyak pakar yang mengembangkan model-model desain instruksional dengan pola-pola tertentu.
Secara umum, desain instruksional dirancang sebenarnya untuk menjawab 3 pertanyaan pokok, yaitu: 1. Apa yang dipelajari? (tujuan pembelajaran); 2. Apa/bagaimana prosedur dan sumber-sumber belajar yang tepat untuk mencapai hasil pembelajaran yang diinginkan? (kegiatan dan sumber) 3. Bagaimana mengetahui bahwa hasil belajar yang diharapkan tercapai(evaluasi). Dalam dunia perencanaan pengajaran harus mengenal model-model perencanaan yang dikembangkan oleh pakar misalnya: Tyler, Hilda, Taba, Dick and Carey, dan Kempt. Adanya variasi model desain tersebut disebabkan latar belakang pendekatan, prinsip, faktor sistem pendidikan yang dianut dan kemudian dikembangkan oleh masing-masing pakar.
1.      Model Dick dan Carey
Dick, Carey, dan Carey (2001) memandang desain pembelajaran sebagai sebuah system dan menganggap pembelajaran adalah proses yang sistematis. Pada kenyataannya cara kerja yang sistematis inilah dinyatakan sebagai model pendekatan system. Dipertegas oleh Dick, Carey, dan Crey (2001) bahwa pendekatan system selalu mengacu kepada tahapan umum system pengembangan pembelajaran (Instructional System Development/ISD). Jika berbicara masalah desain maka masuk ke dalam proses, dan jika mengunakan istilah Instructional Design (ID) mengacu pada Instructional System Development  (ISD) yaitu tahapan analisis, desain, pengembangan, implementasi, dan evaluasi. Instructional desain inilah yang menjadi payung bidang (Dick, Carey, dan Crey  2001).
2.      Model Assure
Model Assure adalah salah satu petunjuk dan perencanaan yang bisa membantu untuk bagaimana cara merencanakan, mengidentifikasi, menentukan tujuan, memilih metode dan bahan, serta evaluasi. Model assure ini merupakan rujukan bagi pendidik dalam membelajarkan peserta didik dalam pembelajaran yang direncanakan dan disusun secara sistematis dengan mengintegrasikan teknologi dan media sehingga pembelajaran menjadi lebih efektif dan  bermakna bagi peserta didik. (wordpress.com:2011)
3.      Model Jerold E. Kemp, dkk
Model desain system pembelajaran yang dikemukakan oleh Jerold E. Kemp dkk berbentuk lingkaran menunjukkan adanya proses kontinyu dalam menerapkan desain system pembelajaran, yang terdiri dari beberapa komponen diantaranya 
a. Mengidentifikasi masalah dan menetapkan tujuan pembelajaran 
b. Menentukan dan menganalisis karakter siswa
c. Mengidentifikasi materi dan menganalisis komponen tugas belajar yang berkaitan dengan  
    pencapaian tujuan pembelajaran
d. Menetapkan tujuan pembelajaran khusus bagi siswa
e. Membuat sistematika panyampaian materi pembelajaran secara sistematik dan logis
f. Merancang strategi pembelajaran
g. Menetapkan metode untuk menyampaikan materi pelajaran
h. Mengembangkan instrumen evaluasi
i. Memilih sumber-sumber yang dapat mendukung aktivitas pembelajaran

PERMASALAHAN :
Seperti yang kita tahu, desain intruksional adalah keseluruhan proses analisis kebutuhan dan tujuan belajar serta pengembangan teknik mengajar dan materi pembelajarannya untuk memenuhi kebutuhan. Ada banyak Model desain instruksional yang berkembang dalam dunia pendidikan dewasa ini, misalnya SAFE (System Approach For Education), Michigan State University Instructional Systems Development Model, Project MINERVA Instructional System Design, Teaching Research System, Banathy Instructional Development System, , Dick & Carey model, Kemp model , Three Phase Design Model, The 4CID Model, ARCS Model, dan banyak lagi model instruksional lainnya. Perkembangannya juga beragam sesuai dengan kondisi dan tujuan desain instruksional tersebut diperuntukkan, yang jelas bahwa setiap model dimaksudkan untuk menghasilkan suatu system instruksional yang efektif dan efisien dalam memfasilitasi pencapaian tujuan instruksional. Setelah tersedianya beberapa model tersebut, bagaimanakah cara kita memilih model yang tepat untuk masing-masing pelajaran yang nantinya hasil pembelajaran (evaluasi) dapat tercapai dan sesuai dengan tujuan kurkilum ?

10 komentar:

  1. Menurut saya dalam memilih model yang tepat untuk merancang dan mengembangkan suatu desain intruksional, harus beranjak dari analisis kebutuhan dan tujuan belajar, serta karakteristik peserta didik dan materi. Dari hasil analisis inilah kita bisa mempertimbangkan dan menentukan model desain instruksional yang mana yang tepat untuk digunakan. karena masing-masing dari model desain intruksional memiliki keunggulan dan fokus pengembangannya. Yang jelas agar suatu desain intruksional yang kita buat tercapai tujuannya maka desain tersebut harus mencangkup jawaban akan 3 hal ini: 1) kesesuaian rancangan tujuan pembelajaranmdan tujuan pendidikan; 2) kesesuaian rancangan prosedur dan sumber-sumber belajar terhadap kebutuhan komponen pengajaran (pendidik dan peserta didik) utk mencapai hasil pembelajaran yg diinginkan. 3) hasil rancangan harus bisa memprediksi dan mengacu pada hasil belajar yg diharapkan.

    BalasHapus
  2. Pada dasarnya model tersebut dibuat mengikuti selera pembuatnya (disesuaikan dengan kondisi disekitar pembuat). Maka yang menjadi pointnya adalah pengajar bisa memilih dengan cermat. Kesesuaian ini merujuk kepada : 1. bahwa masalah pengajaran yang dihadapi dapat dituntaskan dengan model tersebut; 2. strategi mengajar yang ditawarkan model tersebut dapat dipenuhi oleh kita; 3. pelajar akan mencapai tujuan pembelajaran dengan menggunakan model tersebut (hasil evaluasi).
    Karena menurut saya, ketiga hal ini menjadi bahan pertimbangan dalam pemilihan model instruksional yang ingin digunakan. Selain itu, dengan mempertimbangkan hal ini, jika dirasa perlu, kita juga bisa mendesain model intsruksional sendiri untuk penggunaan yang lebih tepat.

    BalasHapus
  3. Sebuah model pembelajaran yang dikembangkan harus dapat mendorong dan memotivasi peserta didik dalam mengembangkan ide dan kreatifitasnya, sehingga pembelajaran menjadi lebih interaktif, menyenangkan, dan inspiratif. Selain itu model yang digunakan juga harus dapat mendorong peserta didik untuk berpartisipasi aktif dalam diskusi maupun dalam kegaiatan lain, dan dapat meningkatkan sifat percaya diri.
    Cara menentukan sebuah model pembelajaran yang akan dilaksanakan dalam kegiatan pembelajaran akan berbeda untuk setiap mata pelajaran. Hal tersebut disesuaikan dengan karakteristik materi pada masing-masing mata pelajaran. Hal-hal yang dapat dipertimbangkan dalam menentukan model pembelajaran yang akan digunakan hal-hal sebagai berikut :
    a.Kesesuaian model pembelajaran dengan karakteristik mata pelajaran, sehingga ada
    b.Kesesuaian model pembelajaran dengan karakteristik KD-KI 2 yang dapat mengembangkan kompetensi sikap, dan kesesuaian materi pembelajaran dengan tuntutan KD-KI 3 dan/atau KDKI 4 untuk memgembangkan kompetensi pengetahuan dan/atau keterampilan.
    c.Kesesuaian model pembelajaran dengan tujuan pembelajaran yang spesifik dalam mengembangkan potensi dan kompetensi, misalnya untuk mengembangkan interaksi sosial, atau mengolah informasi.
    d.Penggunaan model pembelajaran disesuaikan dengan pendekatan saintifik.

    BalasHapus
  4. cara kita memilih model yang tepat untuk masing-masing pelajaran yang nantinya hasil pembelajaran (evaluasi) dapat tercapai dan sesuai dengan tujuan kurkilum yaitu yang dapat memenuhi beberapa kriteria sebagai berikut :

    Sederhana, yaitu bentuk yang sederhana akan lebih mudah untuk dimengerti, diikuti dan digunakan.
    Lengkap, yakni suatu model pengembangan desain pembelajaran yang lengkap haruslah mengandung tiga unsur pokok, yaitu identifikasi, pengembangan dan evaluasi.
    Mungkin diterapkan, artinya model yang dipilih hendaklah dapat diterima dan dapat diterapkan sesuai dengan situasi dan kondisi setempat
    Luas, yakni jangkauan model tersebut hendaklah cukup luas, tidak saja berlaku untuk pola belajar mengajar yang konvensional, tetapi juga proses belajar mengajar yang lebih luas, baik yang menghendaki kehadiran guru secara fisik maupun yang tidak
    Teruji, yaitu model yang bersangkutan telah dipakai secara luas dan teruji/terbukti dapat memberikan hasil yang baik.

    BalasHapus
  5. Secara umum, desain instruksional dirancang untuk menjawab 3 pertanyaan pokok, yaitu: 1. Apa yang dipelajari (tujuan pembelajaran); 2. Apa/bagaimana prosedur dan sumber-sumber belajar yang tepat untuk mencapai hasil pembelajaran yang diinginkan (kegiatan dan sumber) 3. Bagaimana mengetahui bahwa hasil belajar yang diharapkan tercapai (evaluasi). Tiga pertanyaan tersebut bisa menjadi pertimbangan/acuan dalam memilih model desain instruksional yang akan membawa ketercapaian hasil pembelajaran.

    BalasHapus
  6. Begitu banyaknya model instruksional yang serupa, dapat mempersulit pemakai untuk memilih model yang terbaik untuk diterapkan dalam bidang pendidikan. Oleh karena itu, alangkah lebih baik apabila model yang dipilih dapat memenuhi beberapa kriteria sebagai berikut :
    Sederhana, yaitu bentuk yang sederhana akan lebih mudah untuk dimengerti, diikuti dan digunakan.
    Lengkap, yakni suatu model pengembangan desain pembelajaran yang lengkap haruslah mengandung tiga unsur pokok, yaitu identifikasi, pengembangan dan evaluasi.
    Mungkin diterapkan, artinya model yang dipilih hendaklah dapat diterima dan dapat diterapkan sesuai dengan situasi dan kondisi setempat
    Luas, yakni jangkauan model tersebut hendaklah cukup luas, tidak saja berlaku untuk pola belajar mengajar yang konvensional, tetapi juga proses belajar mengajar yang lebih luas, baik yang menghendaki kehadiran guru secara fisik maupun yang tidak
    Teruji, yaitu model yang bersangkutan telah dipakai secara luas dan teruji/terbukti dapat memberikan hasil yang baik.
    Apabila model-model yang sudah ada ternyata tidak ada yang memenuhi kelima kriteria tersebut maka masih ada kemungkinan untuk mengembangkan model yang baru yang sesuai dengan situasi dan kondisi pemakai. Mungkin dapat menciptakan model yang baru atau cukup dengan memodifikasi model yang sudah ada.

    BalasHapus
  7. Menurut saya untuk memilih model yang tepat untuk merancang dan mengembangkan suatu desain intruksional, harus beranjak dari analisis kebutuhan dan tujuan belajar, serta karakteristik awal dari peserta didik dan materi. Dari hasil analisis inilah kita akan mempertimbangkan dan memilih model desain instruksional yang mana yang tepat untuk digunakan. karena masing-masing dari model desain intruksional memiliki keunggulan dan kelemahannya masing-masing.

    BalasHapus

  8. Cara menentukan sebuah model pembelajaran yang akan dilaksanakan dalam kegiatan pembelajaran akan berbeda untuk setiap mata pelajaran. Hal tersebut disesuaikan dengan karakteristik materi pada masing-masing mata pelajaran. Hal-hal yang dapat dipertimbangkan dalam menentukan model pembelajaran yang akan digunakan hal-hal sebagai berikut :
    1. Kesesuaian model pembelajaran dengan karakteristik mata pelajaran,
    2. Kesesuaian model pembelajaran dengan karakteristik KD-KI 2 yang dapat mengembangkan kompetensi sikap, dan kesesuaian materi pembelajaran dengan tuntutan KD-KI 3 dan/atau KDKI 4 untuk memgembangkan kompetensi pengetahuan dan/atau keterampilan.
    3. Kesesuaian model pembelajaran dengan tujuan pembelajaran yang spesifik dalam mengembangkan potensi dan kompetensi, misalnya untuk mengembangkan interaksi sosial, atau mengolah informasi.
    4. Penggunaan model pembelajaran disesuaikan dengan pendekatan saintifik.

    BalasHapus
  9. Menurut saya untuk memilih model yang tepat atau untuk merancang suatu desain intruksional terlebihdahulu kita menganilisis kebutuhan dan tujuan, pembelajaran, juga melihat karakteristik awal siswa dan materi. Dalam memilih model pembeljaran yang tepat hal-hal yang harus dipertimbangkan antara lain :

    1.Guru diharapkan mempertimbangkan hal-hal dalam menentukan tujuan yang hendak dicapai

    a. Apakah tujuan pembelajaran yang ingin dicapai berkenan dengan kompetensi akademik, kepribadian, sosial, keterampilan siswa, kognitif,afektif dan psikomotor pada siswa

    b.    Bagaimana kompleksitas tujuan pembelajaran yang ingin dicapai

    c.    Apakah tujuan yang hendak dicapai itu memerlukan keterampilan akademik

    2.  Guru diharapkan mempertimbangkan hubungan antara bahan atau materi dalam pembelajaran yang akan disajikan.

    a.    Apakah materi pelajaran yang akan disampaikan berupa fakta, konsep, hukum atau teori

    b.    Apakah pembelajaran yang akan berlangsung memerlukan prasyarat atau tidak

    c.    Bahan atau sumber pendukung sudah ada dan relevan untuk materi

    3.    Guru diharapkan dapat mempertimbangkan kemampuan dasar siswa

    a.    Apakah model pembelajaran yang dipilih sudah tepat dengan kematangan siswa

    b.    Apakah model pembelajaran yang dipilih sesuai dengan bakat, mintat, dan kondisi siswa?

    c.    Apakah model pembelajaran itu sesuai dengan karakter siswa
    Dengan mempertimbangkan hal-hal tersebut, maka kita akan dapat menentukan model pembelajaran yang tepat untuk setiap materi yang akan kita ajarkan.

    BalasHapus
  10. Dalam pemilihan model pembelajaran sangat dipengaruhi oleh 1) sifat dari materi yang akan diajarkan, 2) tujuan akan dicapai dalam pengajaran, 3) tingkat kemampuan peserta didik, 4) jam pelajaran (waktu pelajaran), 5) lingkungan belajar, dan 6) fasilitas penunjang yang tersedia.
    Kualitas model pembelajaran dapat dilihat dari dua aspek, yaitu proses dan produk. Aspek proses mengacu apakah pembelajaran mampu menciptakan situasi belajar yang menyenangkan (joyful learning) serta mendorong siswa untuk aktif belajar dan berpikir kreatif. Aspek produk mengacu apakah pembelajaran mampu mencapai tujuan (kompetensi), yaitu meningkatkan kemampuan siswa sesuai dengan standar kemampuan atau kompetensi yang ditentukan. Dalam hal ini sebelum melihat hasilnya, terlebih dahulu aspek proses sudah dapat dipastikan berlangsung baik.

    BalasHapus