Desain Sistem Instruksional
Sistem instruksional adalah suatu kombinasi dari
komponen-kompnen system instruksional dan pola pengelolaan yang tertentu, yang
telah disusun dalam suatu desain atau seleksi, dan dalam pemakaian untuk
menghasilkan belajar yang direncanakan dan terkontrol. Sistem
instruksional adalah pengaturan seluruh sumber daya dan prosedur untuk
mempromosikan belajar. Desain instruksional adalah proses sistematis untuk
mengembangkan system pembelajaran dan pengembangan instruksional
adalah proses penerapan sistem atau rencana instruksional. Pengembangan
instruksional adalah implementasi dari perancangan/perencanaan
instruksional.
Perancang instruksional tidak selalu
memiliki kesempatan untuk mengerjakan proyek lingkup nasional. Mereka umumnya
merancang sistem instruksional yang lebih kecil seperti kursus, unit dalam
kursus, atau pelajaran individu. Terlepas dari perbedaan ukuran dan ruang
lingkup, proses perancangan sistem instruksional memiliki fitur umum di semua
tingkat kurikulum. Desain sistems instruksional memiliki komponen yang lebih
kecil dikenal sebagai desain instruksional karena fokusnya adalah bagian dari
instruksi itu sendiri, bukan keseluruhan sistem instruksional.
Beberapa model cocok untuk desain
pengajaran unit kursus dan pelajaran. Salah satu model yang banyak dikenal
adalah model Dick dan Carey (1990) . Semua tahapan dalam model sistem
instruksional yang dapat diterapkan dikategorikan menjadi satu dari tiga
fungsi: (1) mengidentifikasi hasil dari instruksi, (2) mengembangkan instruksi,
dan (3) mengevaluasi keefektifannya dari instruksi. Kita akan fokus pada
kegiatan desain instruksional yang terjadi dalam sembilan tahap
Tahap 1:
Tujuan Instruksional
Tujuan dapat
didefinisikan sebagai keadaan yang diinginkan. Pada tahap ini, perancang instruksional
harus bertanya, “Tujuan apa yang akan mewakili keadaan yang diinginkan?”
Setelah tujuan telah dinyatakan, perancang dapat melakukan analisis kebutuhan.
Ahli (Burton dan Merrill, 1977; Kaufman, 1976) mendefinisikan kebutuhan
sebagai sebuah perbedaan atau kesenjangan antara keadaan yang diinginkan
(tujuan) dan keadaan saat ini. Oleh karena itu, kebutuhan bisa ditentukan
setelah menyatakan tujuan dan analisis keadaan sekarang. Kebutuhan dan tujuan
selanjutnya disempurnakan pada tahap 2 dan 3 dari proses perancangan, analisis
instruksional dan analisis pembelajar (karakteristik siswa).
Ø Tahap 2: Analisis Instruksional
Tujuan analisis instruksional adalah
untuk mengetahui keterampilan yang terlibat dalam mencapai suatu tujuan. Dalam
hal ini, sang perancang akan menggunakan analisis tugas (atau analisis
prosedural), produknya akan menjadi daftar langkah dan keterampilan yang
digunakan pada setiap langkah dalam prosedur (Gagne, 1977).
Jenis
analisis instruksional lainnya adalah analisis pemrosesan informasi, yang
dirancang untuk mengungkapkan operasi mental yang digunakan oleh orang yang
memiliki keterampilan belajar yang kompleks. Analisis ini dapat diartikan
sebagai analisis proses internal yang terlibat dalam keterampilan yang
diinginkan. Perkiraan penting yang dibuat untuk setiap keputusan dan tindakan
yang diungkapkan oleh proses informasi. Analisis apakah peserta didik yang
dimaksud sesuai dengan kemampuan ini atau apakah mereka perlu membelajarinya
(tahap 3).
Hasil
analisis instruksional yang penting adalah klasifikasi tugas. Klasifikasi tugas
adalah kategorisasi hasil belajar menjadi domain atau subdomain jenis/model
pembelajaran. Gagne (1985) menggambarkan lima jenis utama hasil belajar dan
beberapa subtipe. Tugas Klasifikasi dapat membantu perancangan pembelajaran
dalam beberapa cara. Target klasifikasi tujuan memungkinkan untuk memeriksa
apakah tujuan yang dimaksudkan dari sebuah unit instruksional sedang diabaikan.
Briggs and Wager (1981) telah mempresentasikan contoh bagaimana sasaran-sasaran
dapat diklasifikasikan dan kemudian dikelompokkan menjadi unit kursus berupa
peta instruksional kurikulum. Peta yang dihasilkan kemudian dapat ditinjau
ulang untuk memeriksa apakah informasi verbal, sikap, dan keterampilan
intelektual termasuk dalam unit instruksional. Klasifikasi hasil belajar juga
menyediakan kondisi yang paling efektif untuk berbagai jenis hasil
pembelajaran.
Jenis
analisis akhir yang akan disebutkan adalah analisis tugas belajar. Sebuah
analisis perangkat belajar yang tepat untuk tujuan pengajaran yang melibatkan
keterampilan intelektual. Tujuan dari analisis tugas belajar adalah untuk
mengungkapkan tujuan yang memungkinkan ada dan untuk mengambil keputusan
urutan/langkah pengajaran yang perlu dibuat. Kemungkinan hasil analisis tugas
pembelajaran adalah peta instruksional kurikulum (ICM) mirip dengan yang
ditunjukkan pada Gambar 2-2. ICM ini menunjukkan tujuan targetnya dan tujuan
bawahan mereka untuk unit instruksional pada kata pengolahan. Perancang mungkin
perlu menerapkan salah satu atau semua jenis analisis ini dalam merancang satu
unit instruksi.
Ø Tahap
3: Urutan Perilaku dan Karakteristik Pembelajar
Seperti
yang ditunjukkan sebelumnya, langkah ini sering dilakukan secara paralel dengan
tahap 2. Tujuannya adalah untuk menentukan keterampilan yang memungkinkan yang
dibutuhkan peserta didik untuk tugas belajar. Beberapa peserta didik akan tahu
lebih banyak dari yang lain, jadi perancangnya harus memilih dari mana memulai
instruksi, mengetahui bahwa itu akan berlebihan untuk beberapa tapi perlu bagi
orang lain. Perancang juga harus bisa mengidentifikasi para peserta didik untuk
siapa instruksi itu tidak sesuai sehingga mereka dapat diberikan instruksi yang
remediates. Biasanya tidak cukup bagi seorang desainer untuk menebak keterampilan
apa yang dibutuhkan dari audiens yang dituju. Prosedur yang lebih baik adalah
mewawancarai dan menguji keterampilan populasi sasaran sampai Anda cukup tahu
tentang mereka untuk merancang instruksi dengan tepat.
Selain
kualitas pembelajar seperti keterampilan intelektual yang jelas, perancang
instruksi mestinya merasa perlu untuk membuat beberapa ketentuan untuk
kemampuan dan sifat pembelajar, yang biasanya dianggap kurang mudah dan bisa
berubah melalui pembelajaran. Kemampuan mencakup kualitas seperti pemahaman
verbal dan orientasi spasial. Sifat kepribadian adalah aspek lain dari
kemampuan belajar yang mungkin perlu dipertimbangkan dalam desain
instruksional. Kemampuan dan sifat kontras dengan karakteristik pelajar sebagai
keterampilan dan pengetahuan verbal; memiliki efek spesifik pada isi instruksi
yang efektif.
Tahap
4: Tujuan Kinerja
Pada
tahap ini, perlu merumuskan kebutuhan dan sasaran ke dalam kinerja tujuan yang
cukup spesifik dan rinci untuk menunjukkan kemajuan menuju tujuan. Ada dua
alasan untuk memulai dari tujuan umum hingga semakin meningkat ke objek
spesifik. Yang pertama adalah bisa berkomunikasi pada level orang yang berbeda.
Beberapa orang (misalnya, orang tua atau dewan direksi) adalah hanya tertarik
pada tujuan, dan tidak dalam rincian, sedangkan yang lain (guru, siswa)
membutuhkan tujuan kinerja yang terperinci untuk menentukan apa yang akan
mereka ajarkan dan pelajari. Alasan kedua untuk meningkatkan rincian adalah
memungkinkan perencanaan dan pengembangan dari bahan ajar dan sistem penyampaian.
Berbagai jenis hasil belajar memerlukan perawatan instruksional yang berbeda.
Untuk merancang bahan ajar yang efektif dan memilih sistem pengiriman yang
efektif, perancang harus benar-benar menentukan kondisi belajar yang diperlukan
untuk memperoleh informasi dan keterampilan baru. Alasan terakhir untuk
akhirnya menyatakan semua tujuan dalam hal kinerja (bukan isi garis besar atau
kegiatan guru) adalah untuk dapat mengukur kinerja siswa untuk menentukan kapan
tujuan telah tercapai.
Fungsi
tujuan kinerja adalah untuk (1) menyediakan sarana untuk menentukan apakah
instruksi berhubungan dengan pencapaian tujuan, (2) menyediakan sarana untuk
memfokuskan perencanaan pelajaran pada kondisi yang sesuai pembelajaran, (3)
membimbing pengembangan ukuran kinerja pelajar, dan (4) membantu peserta didik
dalam usaha belajar mereka. Dengan demikian, hubungan intim antar tujuan,
instruksi, dan evaluasi ditekankan. Briggs (1977) disebut Ketiga aspek desain
instruksional ini sebagai anchorpoint dalam perencanaan, dan dia menekankan
kebutuhan untuk memastikan bahwa ketiganya sesuai dengan kesepakatan lain.
Gambar 2-1 menempatkan pengembangan item uji sebelum pengembangan strategi
instruksional Briggs (1977) juga menempatkan desain penilaian instrumen sebelum
pengembangan pelajaran, dengan alasan bahwa (1) pemula adalah lebih mungkin
untuk menyimpang dari tujuan dalam mengembangkan tes daripada dalam
mempersiapkan pelajaran, dan (2) perancang yang baru saja selesai mengembangkan
materi pelajaran mungkin secara tidak sengaja fokus pada konten daripada
kinerja dalam membangun tes. Perancang berpengalaman, bagaimanapun, mungkin
memilih untuk mengembangkan pelajaran sebelum mengembangkan ukuran kinerja.
Ø Tahap
5: Kriteria-Referensi Tes Item
Ada
banyak kegunaan untuk ukuran kinerja. Pertama, mereka bisa digunakan untuk
diagnosis dan penempatan dalam kurikulum. Tujuan pengujian diagnostic adalah
untuk memastikan bahwa seseorang memiliki prasyarat yang diperlukan untuk
keterampilan belajar baru. Uji item memungkinkan guru untuk menentukan
kebutuhan individu siswa agar berkonsentrasi pada keterampilan yang kurang dan
harus dihindari instruksi yang tidak perlu. Tujuan lainnya adalah untuk
mengecek hasil belajar siswa selama kemajuan pelajaran. Pemeriksaan semacam itu
memungkinkan untuk mendeteksi kesalahpahaman yang mungkin dimiliki siswa dan
memulihkannya sebelum melanjutkan. Selain itu, tes kinerja diberikan pada akhir
pelajaran atau unit instruksi dapat digunakan untuk mendokumentasikan kemajuan
siswa untuk orang tua atau administrator. Tingkat penilaian kinerja ini dapat
berguna dalam mengevaluasi sistem pembelajaran itu sendiri, atau
keseluruhannya.
Evaluasi
dirancang untuk menyediakan data, instruksi untuk diperbaiki, disebut evaluasi
formatif. Mereka biasanya dilakukan saat bahan ajar masih dibentuk dan
direformasi. Bila tidak ada perubahan lebih lanjut terhadap yang direncanakan
dan kapan saatnya menentukan keberhasilan dan nilai kursus di akhir, evaluasi
sumatif dilakukan. Beberapa perencanaan ukuran kinerja sebaiknya dilakukan
sebelum pengembangan rencana pelajaran dan bahan ajar karena seseorang
menginginkan tes untuk fokus pada tujuan kinerja (apa yang harus dimiliki
peserta didik) daripada pada apa yang pelajar telah baca atau apa yang telah
dilakukan guru. Demikian ukuran kinerja dimaksudkan untuk menentukan apakah
siswa telah memperoleh keterampilan yang diinginkan, bukan untuk menentukan
apakah mereka hanya mengingat instruksionalnya presentasi.
Ø Tahap
6: Strategi Instruksional
Penggunaan
istilah strategi kami bersifat nonrestrictive. Kami tidak bermaksud
menyiratkan semua instruksi harus dalam bentuk modul instruksional mandiri atau
materi yang dimediasi. Instruksi yang dipimpin oleh guru atau yang berpusat
pada guru juga bisa mendapat manfaat dari desain sistem pembelajaran. Melalui
Strategi instruksional, dimaksudkan agar sebuah rencana dibuat untuk membantu
peserta didik dengan usaha studinya untuk setiap tujuan kinerja. Ini mungkin
terjadi bentuk rencana pelajaran (dalam hal instruksi yang dipimpin guru) atau
satu set spesifikasi produksi untuk bahan yang dimediasi. Tujuan strategi
pengembangan sebelum mengembangkan materi itu sendiri adalah untuk menguraikan
bagaimana kegiatan instruksional akan berhubungan dengan pencapaian tujuan.
Saat instruksi yang dipimpin oleh guru, diatur instruksi kelompok, para guru
menggunakan proses desain instruksionalnya untuk menghasilkan panduan untuk
membantu menerapkan maksud rencana pelajaran tanpa harus menyampaikan isi
pastinya kepada peserta didik. Guru memberi arahan, mengarahkan peserta didik
ke materi yang sesuai, memimpin atau mengarahkan aktivitas kelas, dan
melengkapi bahan yang ada dengan instruksi langsung. Di sisi lain, ketika
pelajaran yang berpusat pada pelajar, pelajar dengan pembelajaran yang
direncanakan, sebuah modul dipresentasikan kepada pelajar. Biasanya menyajikan
suatu tujuan belajar, panduan aktivitas, materi yang akan dilihat atau dibaca,
praktek/latihan, dan tes kompetensi untuk pelajar.
Tujuan
dari semua instruksi adalah untuk menyediakan langkah instruksi. Mereka
mencakup fungsi yang diakui secara luas seperti mengarahkan perhatian,
menginformasikan pelajar tentang tujuan, menyajikan bahan stimulus, dan
penyediaan umpan balik. Tidak masalah apakah kegiatan ini dilakukan oleh guru
atau bahan ajar, asalkan berhasil dilakukan. Bisa dicatat lebih lanjut bahwa
peristiwa instruksi ini berlaku untuk semua domain hasil pembelajaran.
Perencanaan strategi instruksional adalah bagian penting dari proses desain
pembelajaran. Pada titik inilah perancang harus bisa menggabungkan pengetahuan
tentang teori belajar dan desain dengan pengalaman peserta didik dan tujuan.
Tak perlu disyukuri, kreativitas dalam perancangan pelajaran akan meningkatkan
pengetahuan dan pengalaman lainnya. Mungkin komponen kreativitas ini memisahkan
seni desain instruksional dari ilmu desain instruksional. Jelas bahwa desain
pelajaran terbaik akan menunjukkan pengetahuan tentang peserta didik, tugas
tercermin dalam tujuan, dan efektivitas strategi pengajaran.
Ø Tahap
7: Instruksional Materi/Bahan Ajar
Kata
materi disini mengacu pada media cetak atau media lain yang dimaksudkan untuk
menyampaikan kegiatan instruksi.
Dalam
kebanyakan sistem pengajaran tradisional, guru tidak merancang atau
mengembangkan materi pelajaran mereka sendiri. Sebaliknya, mereka diberikan
bahan
(atau mereka memilih materi) yang mereka integrasikan ke dalam rencana
pelajaran mereka. Sebaliknya, desain sistem instruksional menggarisbawahi
pemilihan dan pengembangan bahan ajar sebagai bagian penting dari usaha
perancangan. Beberapa prinsip umum mulai muncul. Pertama, yang lebih
inovatif tujuannya, semakin besar kemungkinan bahwa sebagian besar materi harus
dikembangkan karena mereka tidak mungkin tersedia secara komersial. Kedua,
materi berkembang untuk sistem penyampaian tertentu hampir selalu lebih mahal
daripada membuat pilihan dari yang tersedia. Ketiga, adalah mungkin untuk
meminimaliasir biaya pengembangan dengan memilih bahan ajar yang tersedia dan
mengintegrasikannya ke dalam sebuah modul yang menyediakan cakupan semua tujuan
instruksi yang diinginkan. Keempat, peran guru dipengaruhi oleh pilihan sistem
penyampaian dan kelengkapan materi karena guru harus memberikan apapun
peristiwa yang hilang yang mungkin dibutuhkan oleh peserta didik.
Beberapa
kurikulum dan sistem instruksional baru telah direncanakan dengan sengaja sejak
awal baik untuk mengembangkan semua bahan baru atau untuk memanfaatkannya
sebanyak mungkin materi yang ada. Alasan pertama adalah pastikan bahwa konsep,
metode, tema, atau isi utama secara hati-hati dipertahankan. Karena program
semacam itu sering dikenali sebagai percobaan, tambahnya biaya pengembangan
dapat dibenarkan untuk menjaga kemurnian konsep asli. Di kasus keputusan untuk
memaksimalkan penggunaan bahan yang ada, kemungkinan biaya menjadi pertimbangan
utama dalam Proyek RENCANA (Flanagan, 1975). Pengembangan material menurut
Carey dan Briggs (1977) dan Branson and Grow (1987) memberikan penjelasan umum
tentang proses, dan Weisgerber (1971) memberikan beberapa dari rincian untuk
sistem tertentu.
Ø Tahap
8: Evaluasi Formatif
Evaluasi
formatif menyediakan data untuk merevisi dan memperbaiki bahan pembelajaran.
Dick dan Carey (1990) memberikan prosedur rinci untuk tiga tingkatan proses
evaluasi formatif. Pertama, bahan prototipe dicoba pada satu-persatu (satu
evaluator duduk dengan satu pelajar) dengan perwakilan peserta didik sesuai
kriteria. Langkah ini memberikan banyak informasi secara terstruktur dan
masalah logistik yang mungkin dimiliki peserta didik dalam pelajaran. Perancang
bisa mewawancarai pelajar atau memintanya "berbicara melalui"
pikirannya terhadap materi. Sudah diperkirakan keefektifannya bahan ajar bisa
ditingkatkan 50% hanya melalui penggunaan beberapa evaluasi satu per satu.
Tingkat kedua adalah percobaan kelompok kecil, yang bahannya diberikan kepada
sekelompok 6-8 siswa. Fokus ini adalah bagaimana siswa menggunakan materi dan
berapa banyak bantuan yang diminta. Informasi ini dapat digunakan untuk membuat
pelajaran lebih mandiri. Ini juga akan memberi rancangan ide yang lebih baik
tentang efektivitas materi pada kelompok besar, nilai rata-rata siswa lebih
representatif daripada nilai dari percobaan siswa satu lawan satu. Langkah
terakhir adalah uji coba lapangan di mana instruksi, direvisi berdasarkan
percobaan satu lawan satu dan kelompok kecil, kemudian diberikan ke seluruh
kelas. Tujuan dari evaluasi formatif adalah merevisi instruksi seefektif
mungkin untuk jumlah siswa terbesar. Tahapan pengembangan bahan ini mungkin
salah satu yang paling sering diabaikan karena tahap akhir dalam proses desain
dan merupakan upaya yang signifikan dalam perencanaan dan pelaksanaan. Namun,
penggunaan sistem umpan balik untuk memperbaiki sistem merupakan inti dari
filosofi sistem. Desain instruksional tanpa evaluasi formatif tidak lengkap.
Lingkaran umpan balik pada Gambar 2-1 menunjukkan data evaluasi formatif dapat
meminta revisi atau peninjauan produk karena informasi berasal dari tahap
desain sebelumnya.
Ø Tahap
9: Evaluasi Sumatif
Studi
tentang keefektifan suatu sistem secara keseluruhan disebut evaluasi sumatif.
Istilahnya menyiratkan, evaluasi sumatif biasanya dilakukan setelah sistem
melewati tahap formatifnya-bila tidak lagi menjalanipoint-bypoint revisi.
Hal ini mungkin terjadi pada saat uji lapangan pertama atau sebanyak lima tahun
kemudian, ketika sejumlah besar siswa telah diajar oleh sistem yang baru. Jika
ada harapan bahwa sistem akan banyak digunakan di sekolah atau ruang kelas di
seluruh negeri, evaluasi sumatif perlu dilakukan di bawah kisaran kondisi yang
bervariasi.
Sebuah
badan nasional, Joint Dissemination Review Panel (JDRP), bertemu
secara berkala untuk meninjau bukti efektivitas produk pendidikan yang
diidentifikasi berpotensi “sebagai percontohan”dan tepat penyebarannya. Ini
adalah bentuk evaluasi sumatif, di mana sebuah tim dari evaluator mengaudit
sebuah proyek percontohan untuk menilai bukti efektivitasnya. Bukti itu harus
menunjukkan valid dan dapat diandalkan, efeknya harus cukup besar terhadap
kepentingan pendidikan, dan memungkinkan berintervensi dalam produksi dan
pengaruhnya di tempat lain "(Tallmadge, 1977; hal 2). Proyek melewati
pemeriksaan panel, mungkin memenuhi syarat untuk mendapatkan dana dukungan
penyebaran dari National Diffusion Network.
Prinsip – Prinsip Desain Instruksional (berdasarkan
Teori Belajar / Psikologi dan hasil penelitian) :
- Pengulangan respon yang menyenangkan (pengulangan)
- Tujuan tujuan instruksional yang jelas (penciptaan kondisi perilaku belajar, metode dan media)
- Pemberian penguatan (umpan balik nilai, pujian, penghargaan)
- Pemberian contoh dari alam nyata
- Pemberian contoh dan non-contoh
- Perhatian dan ketekunan
- Pemecahan materi menjadi lebih kecil
- Penggunaan model
- Pemecahan keterampilan umum menjadi keterampilan khusus
- Pemberian informasi kemajuan belajar
- Perbedaan kecepatan belajar (prasyarat / entry behavior)
Mengatur
sendiri waktu, cara dan sumber
Model-Model
Desain Instuksional
Ada banyak Model desain
instruksional yang berkembang dalam dunia pendidikan dewasa ini, misalnya SAFE
(System Approach For Education), Michigan State University Instructional
Systems Development Model, Project MINERVA Instructional System Design,
Teaching Research System, Banathy Instructional Development System, , Dick
& Carey model, Kemp model , Three Phase Design Model, The 4CID Model, ARCS
Model, dan banyak lagi model instruksional lainnya. Perkembangannya juga
beragam sesuai dengan kondisi dan tujuan desain instru ksional tersebut
diperuntukkan, yang jelas bahwa setiap model dimaksudkan untuk menghasilkan
suatu system instruksional yang efektif dan efisien dalam memfasilitasi
pencapaian tujuan instruksional. Pada dasarnya model instruksional yang
ditawarkan memiliki prosedur yang hampir sama antara satu dengan yang lain,
atau bahkan mengkombinasikan dari berbagai model yang sudah ada untuk kemudian
diaplikasikan kedalam lingkungan pembelajaran yang kita hadapi.
Desain instruksional atau
sering sebut perencanaan pengajaran, telah lama mendapat perhatian dari pakar
pengajaran. Banyak pakar yang mengembangkan model-model desain instruksional
dengan pola-pola tertentu.
Secara umum, desain
instruksional dirancang sebenarnya untuk menjawab 3 pertanyaan pokok, yaitu: 1.
Apa yang dipelajari? (tujuan pembelajaran); 2. Apa/bagaimana prosedur dan
sumber-sumber belajar yang tepat untuk mencapai hasil pembelajaran yang
diinginkan? (kegiatan dan sumber) 3. Bagaimana mengetahui bahwa hasil belajar
yang diharapkan tercapai(evaluasi). Dalam dunia perencanaan pengajaran harus
mengenal model-model perencanaan yang dikembangkan oleh pakar misalnya: Tyler,
Hilda, Taba, Dick and Carey, dan Kempt. Adanya variasi model desain tersebut
disebabkan latar belakang pendekatan, prinsip, faktor sistem pendidikan yang dianut
dan kemudian dikembangkan oleh masing-masing pakar.
1. Model Dick dan Carey
Dick, Carey, dan Carey (2001)
memandang desain pembelajaran sebagai sebuah system dan menganggap pembelajaran
adalah proses yang sistematis. Pada kenyataannya cara kerja yang sistematis
inilah dinyatakan sebagai model pendekatan system. Dipertegas oleh Dick, Carey,
dan Crey (2001) bahwa pendekatan system selalu mengacu kepada tahapan umum
system pengembangan pembelajaran (Instructional System Development/ISD). Jika
berbicara masalah desain maka masuk ke dalam proses, dan jika mengunakan
istilah Instructional Design (ID) mengacu pada Instructional System
Development (ISD) yaitu tahapan analisis, desain, pengembangan,
implementasi, dan evaluasi. Instructional desain inilah yang menjadi payung
bidang (Dick, Carey, dan Crey 2001).
2. Model Assure
Model Assure adalah salah
satu petunjuk dan perencanaan yang bisa membantu untuk bagaimana cara
merencanakan, mengidentifikasi, menentukan tujuan, memilih metode dan bahan,
serta evaluasi. Model assure ini merupakan rujukan bagi pendidik dalam
membelajarkan peserta didik dalam pembelajaran yang direncanakan dan disusun
secara sistematis dengan mengintegrasikan teknologi dan media sehingga
pembelajaran menjadi lebih efektif dan bermakna bagi peserta didik.
(wordpress.com:2011)
3. Model Jerold E. Kemp, dkk
Model desain system
pembelajaran yang dikemukakan oleh Jerold E. Kemp dkk berbentuk lingkaran
menunjukkan adanya proses kontinyu dalam menerapkan desain system pembelajaran,
yang terdiri dari beberapa komponen diantaranya
a.
Mengidentifikasi masalah dan menetapkan tujuan
pembelajaran
b.
Menentukan dan menganalisis karakter siswa
c.
Mengidentifikasi materi dan menganalisis
komponen tugas belajar yang berkaitan dengan
pencapaian tujuan pembelajaran
d.
Menetapkan tujuan pembelajaran khusus bagi siswa
e.
Membuat sistematika panyampaian materi
pembelajaran secara sistematik dan logis
f.
Merancang strategi pembelajaran
g.
Menetapkan metode untuk menyampaikan materi pelajaran
h.
Mengembangkan instrumen evaluasi
i.
Memilih sumber-sumber yang dapat mendukung
aktivitas pembelajaran
PERMASALAHAN :
Seperti yang
kita tahu, desain intruksional adalah keseluruhan proses analisis kebutuhan dan
tujuan belajar serta pengembangan teknik mengajar dan materi pembelajarannya
untuk memenuhi kebutuhan. Ada banyak Model desain instruksional yang berkembang
dalam dunia pendidikan dewasa ini, misalnya SAFE (System Approach For
Education), Michigan State University Instructional Systems Development Model,
Project MINERVA Instructional System Design, Teaching Research System, Banathy
Instructional Development System, , Dick & Carey model, Kemp model , Three
Phase Design Model, The 4CID Model, ARCS Model, dan banyak lagi model
instruksional lainnya. Perkembangannya juga beragam sesuai dengan kondisi dan
tujuan desain instruksional tersebut diperuntukkan, yang jelas bahwa setiap
model dimaksudkan untuk menghasilkan suatu system instruksional yang efektif
dan efisien dalam memfasilitasi pencapaian tujuan instruksional. Setelah tersedianya
beberapa model tersebut, bagaimanakah cara kita memilih model yang tepat untuk
masing-masing pelajaran yang nantinya hasil pembelajaran (evaluasi) dapat
tercapai dan sesuai dengan tujuan kurkilum ?
Menurut saya dalam memilih model yang tepat untuk merancang dan mengembangkan suatu desain intruksional, harus beranjak dari analisis kebutuhan dan tujuan belajar, serta karakteristik peserta didik dan materi. Dari hasil analisis inilah kita bisa mempertimbangkan dan menentukan model desain instruksional yang mana yang tepat untuk digunakan. karena masing-masing dari model desain intruksional memiliki keunggulan dan fokus pengembangannya. Yang jelas agar suatu desain intruksional yang kita buat tercapai tujuannya maka desain tersebut harus mencangkup jawaban akan 3 hal ini: 1) kesesuaian rancangan tujuan pembelajaranmdan tujuan pendidikan; 2) kesesuaian rancangan prosedur dan sumber-sumber belajar terhadap kebutuhan komponen pengajaran (pendidik dan peserta didik) utk mencapai hasil pembelajaran yg diinginkan. 3) hasil rancangan harus bisa memprediksi dan mengacu pada hasil belajar yg diharapkan.
BalasHapusPada dasarnya model tersebut dibuat mengikuti selera pembuatnya (disesuaikan dengan kondisi disekitar pembuat). Maka yang menjadi pointnya adalah pengajar bisa memilih dengan cermat. Kesesuaian ini merujuk kepada : 1. bahwa masalah pengajaran yang dihadapi dapat dituntaskan dengan model tersebut; 2. strategi mengajar yang ditawarkan model tersebut dapat dipenuhi oleh kita; 3. pelajar akan mencapai tujuan pembelajaran dengan menggunakan model tersebut (hasil evaluasi).
BalasHapusKarena menurut saya, ketiga hal ini menjadi bahan pertimbangan dalam pemilihan model instruksional yang ingin digunakan. Selain itu, dengan mempertimbangkan hal ini, jika dirasa perlu, kita juga bisa mendesain model intsruksional sendiri untuk penggunaan yang lebih tepat.
Sebuah model pembelajaran yang dikembangkan harus dapat mendorong dan memotivasi peserta didik dalam mengembangkan ide dan kreatifitasnya, sehingga pembelajaran menjadi lebih interaktif, menyenangkan, dan inspiratif. Selain itu model yang digunakan juga harus dapat mendorong peserta didik untuk berpartisipasi aktif dalam diskusi maupun dalam kegaiatan lain, dan dapat meningkatkan sifat percaya diri.
BalasHapusCara menentukan sebuah model pembelajaran yang akan dilaksanakan dalam kegiatan pembelajaran akan berbeda untuk setiap mata pelajaran. Hal tersebut disesuaikan dengan karakteristik materi pada masing-masing mata pelajaran. Hal-hal yang dapat dipertimbangkan dalam menentukan model pembelajaran yang akan digunakan hal-hal sebagai berikut :
a.Kesesuaian model pembelajaran dengan karakteristik mata pelajaran, sehingga ada
b.Kesesuaian model pembelajaran dengan karakteristik KD-KI 2 yang dapat mengembangkan kompetensi sikap, dan kesesuaian materi pembelajaran dengan tuntutan KD-KI 3 dan/atau KDKI 4 untuk memgembangkan kompetensi pengetahuan dan/atau keterampilan.
c.Kesesuaian model pembelajaran dengan tujuan pembelajaran yang spesifik dalam mengembangkan potensi dan kompetensi, misalnya untuk mengembangkan interaksi sosial, atau mengolah informasi.
d.Penggunaan model pembelajaran disesuaikan dengan pendekatan saintifik.
cara kita memilih model yang tepat untuk masing-masing pelajaran yang nantinya hasil pembelajaran (evaluasi) dapat tercapai dan sesuai dengan tujuan kurkilum yaitu yang dapat memenuhi beberapa kriteria sebagai berikut :
BalasHapusSederhana, yaitu bentuk yang sederhana akan lebih mudah untuk dimengerti, diikuti dan digunakan.
Lengkap, yakni suatu model pengembangan desain pembelajaran yang lengkap haruslah mengandung tiga unsur pokok, yaitu identifikasi, pengembangan dan evaluasi.
Mungkin diterapkan, artinya model yang dipilih hendaklah dapat diterima dan dapat diterapkan sesuai dengan situasi dan kondisi setempat
Luas, yakni jangkauan model tersebut hendaklah cukup luas, tidak saja berlaku untuk pola belajar mengajar yang konvensional, tetapi juga proses belajar mengajar yang lebih luas, baik yang menghendaki kehadiran guru secara fisik maupun yang tidak
Teruji, yaitu model yang bersangkutan telah dipakai secara luas dan teruji/terbukti dapat memberikan hasil yang baik.
Secara umum, desain instruksional dirancang untuk menjawab 3 pertanyaan pokok, yaitu: 1. Apa yang dipelajari (tujuan pembelajaran); 2. Apa/bagaimana prosedur dan sumber-sumber belajar yang tepat untuk mencapai hasil pembelajaran yang diinginkan (kegiatan dan sumber) 3. Bagaimana mengetahui bahwa hasil belajar yang diharapkan tercapai (evaluasi). Tiga pertanyaan tersebut bisa menjadi pertimbangan/acuan dalam memilih model desain instruksional yang akan membawa ketercapaian hasil pembelajaran.
BalasHapusBegitu banyaknya model instruksional yang serupa, dapat mempersulit pemakai untuk memilih model yang terbaik untuk diterapkan dalam bidang pendidikan. Oleh karena itu, alangkah lebih baik apabila model yang dipilih dapat memenuhi beberapa kriteria sebagai berikut :
BalasHapusSederhana, yaitu bentuk yang sederhana akan lebih mudah untuk dimengerti, diikuti dan digunakan.
Lengkap, yakni suatu model pengembangan desain pembelajaran yang lengkap haruslah mengandung tiga unsur pokok, yaitu identifikasi, pengembangan dan evaluasi.
Mungkin diterapkan, artinya model yang dipilih hendaklah dapat diterima dan dapat diterapkan sesuai dengan situasi dan kondisi setempat
Luas, yakni jangkauan model tersebut hendaklah cukup luas, tidak saja berlaku untuk pola belajar mengajar yang konvensional, tetapi juga proses belajar mengajar yang lebih luas, baik yang menghendaki kehadiran guru secara fisik maupun yang tidak
Teruji, yaitu model yang bersangkutan telah dipakai secara luas dan teruji/terbukti dapat memberikan hasil yang baik.
Apabila model-model yang sudah ada ternyata tidak ada yang memenuhi kelima kriteria tersebut maka masih ada kemungkinan untuk mengembangkan model yang baru yang sesuai dengan situasi dan kondisi pemakai. Mungkin dapat menciptakan model yang baru atau cukup dengan memodifikasi model yang sudah ada.
Menurut saya untuk memilih model yang tepat untuk merancang dan mengembangkan suatu desain intruksional, harus beranjak dari analisis kebutuhan dan tujuan belajar, serta karakteristik awal dari peserta didik dan materi. Dari hasil analisis inilah kita akan mempertimbangkan dan memilih model desain instruksional yang mana yang tepat untuk digunakan. karena masing-masing dari model desain intruksional memiliki keunggulan dan kelemahannya masing-masing.
BalasHapus
BalasHapusCara menentukan sebuah model pembelajaran yang akan dilaksanakan dalam kegiatan pembelajaran akan berbeda untuk setiap mata pelajaran. Hal tersebut disesuaikan dengan karakteristik materi pada masing-masing mata pelajaran. Hal-hal yang dapat dipertimbangkan dalam menentukan model pembelajaran yang akan digunakan hal-hal sebagai berikut :
1. Kesesuaian model pembelajaran dengan karakteristik mata pelajaran,
2. Kesesuaian model pembelajaran dengan karakteristik KD-KI 2 yang dapat mengembangkan kompetensi sikap, dan kesesuaian materi pembelajaran dengan tuntutan KD-KI 3 dan/atau KDKI 4 untuk memgembangkan kompetensi pengetahuan dan/atau keterampilan.
3. Kesesuaian model pembelajaran dengan tujuan pembelajaran yang spesifik dalam mengembangkan potensi dan kompetensi, misalnya untuk mengembangkan interaksi sosial, atau mengolah informasi.
4. Penggunaan model pembelajaran disesuaikan dengan pendekatan saintifik.
Menurut saya untuk memilih model yang tepat atau untuk merancang suatu desain intruksional terlebihdahulu kita menganilisis kebutuhan dan tujuan, pembelajaran, juga melihat karakteristik awal siswa dan materi. Dalam memilih model pembeljaran yang tepat hal-hal yang harus dipertimbangkan antara lain :
BalasHapus1.Guru diharapkan mempertimbangkan hal-hal dalam menentukan tujuan yang hendak dicapai
a. Apakah tujuan pembelajaran yang ingin dicapai berkenan dengan kompetensi akademik, kepribadian, sosial, keterampilan siswa, kognitif,afektif dan psikomotor pada siswa
b. Bagaimana kompleksitas tujuan pembelajaran yang ingin dicapai
c. Apakah tujuan yang hendak dicapai itu memerlukan keterampilan akademik
2. Guru diharapkan mempertimbangkan hubungan antara bahan atau materi dalam pembelajaran yang akan disajikan.
a. Apakah materi pelajaran yang akan disampaikan berupa fakta, konsep, hukum atau teori
b. Apakah pembelajaran yang akan berlangsung memerlukan prasyarat atau tidak
c. Bahan atau sumber pendukung sudah ada dan relevan untuk materi
3. Guru diharapkan dapat mempertimbangkan kemampuan dasar siswa
a. Apakah model pembelajaran yang dipilih sudah tepat dengan kematangan siswa
b. Apakah model pembelajaran yang dipilih sesuai dengan bakat, mintat, dan kondisi siswa?
c. Apakah model pembelajaran itu sesuai dengan karakter siswa
Dengan mempertimbangkan hal-hal tersebut, maka kita akan dapat menentukan model pembelajaran yang tepat untuk setiap materi yang akan kita ajarkan.
Dalam pemilihan model pembelajaran sangat dipengaruhi oleh 1) sifat dari materi yang akan diajarkan, 2) tujuan akan dicapai dalam pengajaran, 3) tingkat kemampuan peserta didik, 4) jam pelajaran (waktu pelajaran), 5) lingkungan belajar, dan 6) fasilitas penunjang yang tersedia.
BalasHapusKualitas model pembelajaran dapat dilihat dari dua aspek, yaitu proses dan produk. Aspek proses mengacu apakah pembelajaran mampu menciptakan situasi belajar yang menyenangkan (joyful learning) serta mendorong siswa untuk aktif belajar dan berpikir kreatif. Aspek produk mengacu apakah pembelajaran mampu mencapai tujuan (kompetensi), yaitu meningkatkan kemampuan siswa sesuai dengan standar kemampuan atau kompetensi yang ditentukan. Dalam hal ini sebelum melihat hasilnya, terlebih dahulu aspek proses sudah dapat dipastikan berlangsung baik.