Pembelajaran individual
merupakan suatu strategi pembelajaran, hal ini dijelaskan oleh Rowntree (1974)
dalam Sanjaya (2008 : 128) membagi strategi pembelajaran ke dalam strategi
penyampaian-penemuan atau exposition-discovery leraning strategy dan strategi pembelajaran
kelompok dan strategi pembelajaran individual atau groups-individual learning
strategy.
Menurut Wina Sanjaya (2008:128) strategi pembelajaran individual dilakukan oleh siswa secara mandiri. Kecepatan, kelambatan dan keberrhasilan pembelajaran siswa sangat ditentukan oleh kemampuan individu yang bersangkutan. Bahan pembelajaran serta bagaimana mempelajarinya didesain untuk belajar sendiri.
Pada strategi pembelajaran individual ini siswa dituntut dapat belajar secara mandiri, tanpa adanya kerjasama dengan orang lain. Sisi positif penggunaan strategi ini adalah terbangunya rasa percaya diri siswa, siswa menjadi mandiri dalam melaksanakan pembelajaran, siswa tidak memiliki ketergantungan pada orang lain. Namun di sisi lain terdapat kelemahan strategi pembelajaran ini, diantaranya jika siswa menemukan kendala dalam pembelajaran, minat dan perhatian siswa justru dikhawatirkan berkurang karena kurangnya komunikasi belajar antar siswa, sementara enggan beratanya kepada guru, tidak membiasakan siswa bekerjasama dalam sebuah team.
Sedangkan menurut Sudjana (2009 : 116) Pengajaran individual merupakan suatu upaya untuk memberikan kesempatan kepada siswa agar dapat belajar sesuai dengan kebutuhan, kemampuan, kecepatan dan caranya sendiri.
Menurut Sudjana, Perbedaan-perbedaan individu dapat dilihat dari :
1. Perkembangan intelektual
2. Kemampuan berbahasa
3. Latar belakang pengalaman
4. Gaya belajar
5. Bakat dan minat
6. Kepribadian
Pembelajaran individu berorientasi pada individu dan pengembangan diri. Pendekatan ini memfokuskan pada proses dimana individu membangun dan mengorganisasikan dirinya secara realitas bersifat unik. (Hamzah B. Uno, 2008 : 16)
Menurut Muhammad Ali (2000 : 94) strategi belajar mengajar individual disamping memungkinkan setiap siswa dapat belajar sesuai dengan kemampuan potensinya, juga memungkinkan setiap siswa menguasai seluruh bahan pelajaran secara penuh. “mastery learning “ atau belajar tuntas.
Strategi pengajaran yang menganut konsep belajar tuntas, sangat mementingkan perhatian terhadap perbedaan individual. Atas dasar ini sistem penyampaian pengajaran dilakukan dengan mengarah kepada siswa belajar secara individual. Muhammad Ali (2000 : 99)
Menurut Wina Sanjaya (2008:128) strategi pembelajaran individual dilakukan oleh siswa secara mandiri. Kecepatan, kelambatan dan keberrhasilan pembelajaran siswa sangat ditentukan oleh kemampuan individu yang bersangkutan. Bahan pembelajaran serta bagaimana mempelajarinya didesain untuk belajar sendiri.
Pada strategi pembelajaran individual ini siswa dituntut dapat belajar secara mandiri, tanpa adanya kerjasama dengan orang lain. Sisi positif penggunaan strategi ini adalah terbangunya rasa percaya diri siswa, siswa menjadi mandiri dalam melaksanakan pembelajaran, siswa tidak memiliki ketergantungan pada orang lain. Namun di sisi lain terdapat kelemahan strategi pembelajaran ini, diantaranya jika siswa menemukan kendala dalam pembelajaran, minat dan perhatian siswa justru dikhawatirkan berkurang karena kurangnya komunikasi belajar antar siswa, sementara enggan beratanya kepada guru, tidak membiasakan siswa bekerjasama dalam sebuah team.
Sedangkan menurut Sudjana (2009 : 116) Pengajaran individual merupakan suatu upaya untuk memberikan kesempatan kepada siswa agar dapat belajar sesuai dengan kebutuhan, kemampuan, kecepatan dan caranya sendiri.
Menurut Sudjana, Perbedaan-perbedaan individu dapat dilihat dari :
1. Perkembangan intelektual
2. Kemampuan berbahasa
3. Latar belakang pengalaman
4. Gaya belajar
5. Bakat dan minat
6. Kepribadian
Pembelajaran individu berorientasi pada individu dan pengembangan diri. Pendekatan ini memfokuskan pada proses dimana individu membangun dan mengorganisasikan dirinya secara realitas bersifat unik. (Hamzah B. Uno, 2008 : 16)
Menurut Muhammad Ali (2000 : 94) strategi belajar mengajar individual disamping memungkinkan setiap siswa dapat belajar sesuai dengan kemampuan potensinya, juga memungkinkan setiap siswa menguasai seluruh bahan pelajaran secara penuh. “mastery learning “ atau belajar tuntas.
Strategi pengajaran yang menganut konsep belajar tuntas, sangat mementingkan perhatian terhadap perbedaan individual. Atas dasar ini sistem penyampaian pengajaran dilakukan dengan mengarah kepada siswa belajar secara individual. Muhammad Ali (2000 : 99)
Model-model
pembelajaran individual
Menurut Hamzah B. Uno (2008 : 18), ada beberapa model pembelajaran yang termasuk pada pendekatan pembelajaran individual, diantaranya adalah model pembelajaran pengajaran tidak langsung (non directive teaching), model pembelajaran pelatihan kesadaran (awareness training), sinektik, sistem konseptual, dan model pembelajaran pertemuan kelas (clasroom meeting).
Berikut adalah model-model pembelajaran yang lain :
• Distance learning (pembelajaran jarak jauh)
• Resource-based learning (pembelajaran langsung dari sumber)
• Computer-based training (pelatihan berbasis komputer)
• Directed private study (belajar secara privat langsung)
3. Keuntungan-keuntungan dan kelemahan pembelajaran individual
Keuntungan-keuntungan:
• Pembelajaran tidak dibatasi waktu
• Siswa dapat belajar secara tuntas
• Perbedaan-perbedaan yang banyak di antara para peserta dipertimbangkan
• Para peserta didik dapat bekerja sesuai dengan tahapan mereka dengan waktu yang dapat mereka sesuaikan
• Gaya-gaya pembelajaran yang berbeda dapat diakomodasi
• Hemat untuk peserta dalam jumlah besar
• Para peserta didik dapat lebih terkontrol mengenai bagaimana dan apa yang mereka pelajari
• Merupakan proses belajar yang bersifat aktif bukan pasif
Beberapa kelemahan:
• Memerlukan waktu yang banyak untuk mempersiapkan bahan-bahan
• Motivasi peserta mungkin sulit dipertahankan
• Peran instruktur perlu berubah
• Keberhasilan tujuan pembelajaran kurang tercapai, karena tidak ada tempat untuk siswa bertanya
Menurut Hamzah B. Uno (2008 : 18), ada beberapa model pembelajaran yang termasuk pada pendekatan pembelajaran individual, diantaranya adalah model pembelajaran pengajaran tidak langsung (non directive teaching), model pembelajaran pelatihan kesadaran (awareness training), sinektik, sistem konseptual, dan model pembelajaran pertemuan kelas (clasroom meeting).
Berikut adalah model-model pembelajaran yang lain :
• Distance learning (pembelajaran jarak jauh)
• Resource-based learning (pembelajaran langsung dari sumber)
• Computer-based training (pelatihan berbasis komputer)
• Directed private study (belajar secara privat langsung)
3. Keuntungan-keuntungan dan kelemahan pembelajaran individual
Keuntungan-keuntungan:
• Pembelajaran tidak dibatasi waktu
• Siswa dapat belajar secara tuntas
• Perbedaan-perbedaan yang banyak di antara para peserta dipertimbangkan
• Para peserta didik dapat bekerja sesuai dengan tahapan mereka dengan waktu yang dapat mereka sesuaikan
• Gaya-gaya pembelajaran yang berbeda dapat diakomodasi
• Hemat untuk peserta dalam jumlah besar
• Para peserta didik dapat lebih terkontrol mengenai bagaimana dan apa yang mereka pelajari
• Merupakan proses belajar yang bersifat aktif bukan pasif
Beberapa kelemahan:
• Memerlukan waktu yang banyak untuk mempersiapkan bahan-bahan
• Motivasi peserta mungkin sulit dipertahankan
• Peran instruktur perlu berubah
• Keberhasilan tujuan pembelajaran kurang tercapai, karena tidak ada tempat untuk siswa bertanya
Menurut kamus besar Bahasa Indonesia (Depdiknas, 1988: 625), kemandirian
adalah keadaan dapat berdiri sendiri tanpa bergantung pada orang lain.
Pengertian belajar mandiri menurut Hiemstra (1994:1) adalah sebagai berikut:
- Setiap individu berusaha meningkatkan tanggung jawab untuk mengambil berbagai keputusan.
- Belajar mandiri dipandang sebagai suatu sifat yang sudah ada pada setiap orang dan situasi pembelajaran.
- Belajar mandiri bukan berarti memisahkan diri dengan orang lain.
- Dengan belajar mandiri, siswa dapat mentransferkan hasil belajarnya yang berupa pengetahuan dan keterampilan ke dalam situasi yang lain.
- Siswa yang melakukan belajar mandiri dapat melibatkan berbagai sumber daya dan aktivitas, seperti: membaca sendiri, belajar kelompok, latihan-latihan, dialog elektronik, dan kegiatan korespondensi.
- Peran efektif guru dalam belajar mandiri masih dimungkinkan, seperti dialog dengan siswa, pencarian sumber, mengevaluasi hasil, dan memberi gagasan-gagasan kreatif.
- Beberapa institusi pendidikan sedang mengembangkan belajar mandiri menjadi program yang lebih terbuka (seperti Universitas Terbuka) sebagai alternatif pembelajaran yang bersifat individual dan programprogram inovatif lainnya.
Dari pengertian belajar mandiri menurut Hiemstra di atas, maka dapat
disimpulkan bahwa belajar mandiri adalah perilaku siswa dalam mewujudkan
kehendak atau keinginannya secara nyata dengan tidak bergantung pada orang
lain, dalam hal ini adalah siswa tersebut mampu melakukan belajar sendiri,
dapat menentukan cara belajar yang efektif, mampu melaksanakan tugas-tugas
belajar dengan baik dan mampu untuk melakukan aktivitas belajar secara mandiri.
Kegiatan-kegiatan Belajar Mandiri
Menurut Haris Mudjiman (2009: 20-21) kegiatan-kegiatan yang perlu
diakomodasikan dalam pelatihan belajar mandiri adalah sebagai berikut:
- Adanya kompetensi-kompetensi yang ditetapkan sendiri oleh siswa untuk menuju pencapaian tujuan-tujuan akhir yang ditetapkan oleh program pelatihan untuk setiap mata pelajaran.
- Adanya proses pembelajaran yang ditetapkan sendiri oleh siswa.
- Adanya input belajar yang ditetapkan dan dicari sendiri. Kegiatankegiatan itu dijalankan oleh siswa, dengan ataupun tanpa bimbingan guru.
- Adanya kegiatan evaluasi diri (self evaluation) yang dilakukan oleh siswa sendiri. e) Adanya kegiatan refleksi terhadap proses pembelajaran yang telah dijalani siswa.
- Adanya past experience review atau review terhadap pengalamanpengalaman yang telah dimiliki siswa.
- Adanya upaya untuk menumbuhkan motivasi belajar siswa.
- Adanya kegiatan belajar aktif.
Berdasarkan uraian tentang kegiatan-kegiatan dalam pelatihan belajar
menurut Haris Mudjiman di atas, maka dapat diambil kesimpulan bahwa siswa yang
memiliki kemandirian belajar adalah siswa yang mampu menetapkan
kompetensi-kompetensi belajarnya sendiri, mampu mencari input belajar sendiri,
dan melakukan kegiatan evaluasi diri serta refleksi terhadap proses
pembelajaran yang dijalani siswa.
Aspek Belajar Mandiri
Dalam keseharian siswa sering dihadapkan pada permasalahan yang menuntut
siswa untuk mandiri dan menghasilkan suatu keputusan yang baik. Song and Hill
(2007: 31-32) menyebutkan bahwa kemandirian terdiri dari beberapa aspek, yaitu
:
1. Personal Attributes
Personal attributes merupakan aspek yang berkenaan dengan motivasi dari
pebelajar, penggunaan sumber belajar, dan strategi belajar. Motivasi belajar
merupakan keinginan yang terdapat pada diri seseorang yang merangsang pebelajar
untuk melakukan kegiatan belajar. Ciri-ciri motivasi menurut Worrel dan
Stillwell dalam Harliana (1998) antara lain: (a) tanggung jawab (mereka yang
memiliki motivasi belajar merasa bertanggung jawab atas tugas yang dikerjakannya
dan tidak meninggalkan tugasnya sebelum berhasil menyelesaikannya), (b) tekun
terhadap tugas (berkonsentrasi untuk menyelesaikan tugas dan tidak mudah
menyerah), (c) waktu penyelesaian tugas (berusaha menyelesaikan setiap tugas
dengan waktu secepat dan seefisien mungkin), (d) menetapkan tujuan yang
realitas (mampu menetapkan tujuan realistis sesuai dengan kemampuan yang
dimilikinya, mampu berkonsentrasi terhadap setiap langkah untuk mencapai tujuan
dan mengevaluasi setiap kemajuan yang telah dicapai.
2. Processes
Processes merupakan aspek yang berkenaan dengan otonomi proses pembelajaran
yang dilakukan oleh pebelajar meliputi perencanaan, monitoring, serta evaluasi
pembelajaran. Kegiatan perencanaan meliputi: (a) mengelola waktu secara efektif
(pembuatan jadwal belajar, menyusun kalender studi untuk menulis atau menandai
tanggal-tanggal penting dalam studi, tanggal penyerahan tugas makalah, tugas
PR, dan tanggal penting lainnya, mempersiapkan buku, alat tulis, dan peralatan
belajar lain), (b) menentukan prioritas dan manata diri (mencari tahu mana yang
paling penting dilakukan terlebih dahulu dan kapan mesti dilakukan).
Kegiatan monitoring dalam pembelajaran dengan menggunakan model Cooperative
Learning tipe Kepala Bernomor Terstruktur antara lain, (a) aktif melakukan
diskusi dalam kelompok (b) berani mengemukakan pendapat pada saat diskusi
berlangsung, (c) aktif bertanya saat menemui kesulitan baik terhadap teman
maupun guru, (d) membuat catatan apabila diperlukan, (e) tetap melaksanakan
kegiatan pembelajaran meskipun guru tidak hadir. Sedangkan yang termasuk
kegiatan evaluasi pembelajaran antara lain, (a) memperhatikan umpan balik dari
tugas yang telah dilaksanakan sehingga dapat diketahui letak kesalahannya, (b)
mengerjakan kembali soal/ tes di rumah, dan (c) berusaha memperbaiki kesalahan
yang telah dilakukan.
3. Learning Context
Fokus dari learning context adalah faktor lingkungan dan bagaimana faktor
tersebut mempengaruhi tingkat kemandirian pebelajar. Ada beberapa faktor dalam
konteks pembelajaran yang dapat mempengaruhi pengalaman mandiri pebelajar
antara lain, structure dan nature of task. Struktur dan tugas dalam konteks
pembelajaran ini misalnya, siswa belajar dengan struktur (cara kerja) model
pembelajaran Cooperatif Learning tipe Kepala Bernomor Terstruktur dan
mengerjakan tugas kelompok dalam LKS.
Berdasarkan pendapat-pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa kemandirian
belajar siswa merupakan suatu bentuk belajar yang memberikan kesempatan kepada
siswa untuk menentukan tujuan belajar, perencanaan belajar, sumber-sumber
belajar, mengevaluasi belajar, dan menentukan kegiatan belajar sesuai dengan
kebutuhannya sendiri. Aspek yang menunjukkan kemandirian belajar siswa dalam
penelitian ini, yaitu personal attributes, processes, dan learning context.
Dalam pembelajaran matematika, kemandirian belajar dapat dilakukan dalam
kegiatan berdiskusi. Semakin besar peran aktif siswa dalam berbagai kegiatan
tersebut, mengindikasikan bahwa siswa tersebut memiliki kemandirian belajar
yang tinggi.
Istilah “Pengajarn Individual” atau
Pengajaran Perseorangan” merupakan suatu strategi untuk mengatur kegiatan
belajar mengajar sedemikian rupa sehingga setiap siswa memperoleh perhatian
lebih banyak dari pada yang dapat diberikan dalam rangka pengelolaan kegiatan
belajar mengajar dalam kelompok siswa yang besar. Menrut duane (1973)
pengajaran individual merupakan suatu cara pengaturan program belajar dalam
setiap mata pelajaran, disusun dalam suatu cara tertentu yang disediakan bagi
tiap siswa agar dapat memacu kecepatan belajarnya dibawa bimbingan guru.
Pengajaran individual yaitu suatu
pengajaran dimana : Memberikan kesempatan kepada siswa kapan,mengenai apa ia
belajar,ia mengatur waktu,tempat,dan materi yang akan dipelajarinya.Siswa
belajar sesuai dengan kecepatannya masing-masing; yang pandai belajar lebih
cepat dan sebaliknya yang lambat belajar tenang sesuai dengan kecepatannya
tanpa terseret-seret oleh siswa yang lebih pandai.Mereka yang belajarnya lebih
cepat dapat menyelesaikan program SD dan SL-nya lebih cepat dari biasanya
misalnya 8 tahun.Sedangkan yang belajarnya lebih lambat biarlah menyelesaikan
program yang sama itu lebih lambat dari biasanya,misalnya 15 tahun.Siswa dapat
memilih sendiri urutan unit-unit topik-topik pokok yang dipelajari dan tidak
usah mengikuti jalur kesenangan guru.
Siswa belajar secara
tuntas,maksudnya siswa menempuh ulangan bilamana ia sudah merasa siap untuk itu
dan memperbaikinya sampai penguasaanya memenuhi syarat minimum . Setiap unit
yang dipelajarinya memuat tujuan instruksional khusus yang jelas dan kemampuan
siswa pada akhir kegiatan itu diukur berdasarkan kepada tujuan instruksional
khusus itu. Keberhasilan siswa diukur berdasarkan system nilai mutlak
(criterion-referenced)bukan system nilai nilai relative(norm-referenced).Guru
bertindak sebagai pembimbing atau fasilitator belajar siswa bukan sebagai
penilai.Guru membantu bila siswa memerlukannya.
Lebih banyak media pendidikan (multi
media ) dipergunakan,seperti : film,slaids,piringan hitam,model,pita
suara,pita pandang dengar (video tape),dan
sebagainya.Hasil test tidak pakai sebagai penentu apakah ia lulus
atau tidak,tetapi lebih bersifat sebagai pengecek kemampuan siswa.Setiap tujuan
instruksionalnya khusus yang belum dicapai siswa didiskusikan dengan gurunya.
Adanya perbedaan individual
menunjukkan adanya perbedaan kondisi belajar setiap orang, agar individual
dapat berkembang secara optimal dalam proses belajar diperlukan orientasi yang
paralel dengan kondisi yang dimilinya dituntut penghargaan akan individualitas.
Dalam pengajaran beberapa perbedaan yang harus diperhatikan, yakni:
1.
Perbedaan umur
2.
Perbedaan intelegensi
3.
Perbedaan kesanggupan dan kecepatan
4.
Perbbedaan jenis kelamin
Perbedaan individual tersebut harus
mendapat perhatian guru agar berhasil dalam pemberian pembelajaran kepada
siswa. Untuk mengetahui itu guru harus mengenal perbedaan yang ada pada siswa,
antara lain dengan cara:
1.
Tes
2.
Mengunjungi rumah prang tua siswa
3.
Sosiogram
4.
Case study
Model
Pembelanjaran
Pada dasarnya merupakan bentuk
pembelanjaran yang tergambar dari awal sampai akhir yang disajikan secara khas
oleh guru. Dengan kata lain, model pembelajaran merupakan bungkus atau binhkai
dari penerapan suatu pendekatan, metode dan teknik pembelajaran 4 kelompok
model pembelajaran yaitu :
a.
Model interaksi sosial
Pembelajaran yang berinteraksi
langsung antara guru dan siswanya.
b.
Model pengolahan informasi
Mengolah informasi yang akan di
sampaikan kepada siswanya dan mengolah pelajaran yang akan disampaikan kepada
siswanya, mana yang baik ataupun yang kurang baik bagi siswa.
c.
Model Personal
Pembelajaran yang langsung kepada
siswanya secara perorangan.
d.
Model modifikasi tingkah laku
Setiap melakukan pembelajaran
sebaiknya selalu mengganti suasa agar siswa tidak cepat bosan terhadap
pelajaran yang akan diajarkan.
Pengajaran individual dapat mencakup cara-cara pengaturan sebagai berikut:
1.
Rencana Studi Mandiri ( Independent Study
Plans)
Guru dan siswa bersama-sama
mengadakan perjanjianmengenai materi pelajaran yang akan dipelajari dan apa
tujuannya. Para siswa mengatur belajarya sendiri dan diberikan kesempatan untk
berkonsultasi secara berkala kepada guru untukmemperoleh pengarahan atau
bantuan dalam menghadapi tes dan menyelesaikan tugas-tugas perseorangan.
2.
Studi yang Dikelola Sendiri
Siswa diberi sejumlah daftar tujuan
yang harus dicapai serta materi pelajaran yang harus dipelajari untuk mencapai
tujuan yang telah ditetapkan, dilengkapi dengan daftar kepustakaan. Pada
waktu-waktu tertentu siswa menempuh tes dan dinyatakan lulus apabila telah
memenuhi kriteria yang ditetapkan.
3.
Program Belajar yang berpusat pada Siswa (Learner
Centered Program)
Dalam batas -batas tertentu siswa
diperbolehkan menentukan sendiri materi yang akan dipelajari dan dalam urutan
yang bagaimana. Setelah siswa menguasai kemampuan-kemampuan pokok dan esensial,
maereka diberi kesempatan untuk belajar program pengayaan.
4. Belajar
Menurut Kecepatan Sendiri (Self-Pacing)
Siswa mempelajari materi pelajaran
tertentu untuk mencapai tujuan pembelajaran khusus yang telah ditetakan oleh
guru. Sema siswa arus mencapai tujuan pembelajaran khusus yang sama, namn
mereka mengatur sendiri laju kemajuan belajarnya daam mempelajari materi
pelajaran tersebut.
5.
Pembelajaran yang ditentukan oleh siswa sendiri (Sstudent Determined Intruction)
Pengaturan pembelajaran tersebut
menyangkut: penentuan tujuan pembelajaran (umum dan khusus), pilihan media
pembelajaran dan nara suumber, penentuan alokasi waktu untukmempelajari
berbagai topik,penentuan laju kemajuan sendiri, mengevaluasi sendiri pencapain
tujuan pembelajaran, dan kebebasan untuk memprioritaskan materi pelajaran
tertentu.
6.
Pembelajaran Sesuai Diri (Individual
Intruction)
Strategi
pembelajaran ini mencakup enam unsur dasar, yaitu, a) kerangka waktu yang
luwes; b) adanya tes diagnostik yang diikuti pembelajaran perbaikan
(memperbaiki keselahan yang dibuat siswa atau memberi kesempatan kepada isiwa
untuk ;melangkah bagian materi pelajaran yang telah dikuasainya; c) pemberian
kesempatan kepada kesempatan kepada siswa untuk memilih bahan belajar yang
sesuai; d) penilain kemajuan belajar siswa dengan menggunakan bentuk-bentuk
penilaian yang dapat dipilih dan penyediaan waktu mengerjakan yang luwes; e)
pemilihan lokasi belajar yang bebas; dan f) adanya bentuk-bentuk kegiatan
belajar bervariasi yang dapat dipilih.
7. Pembelajaran
Perseorangan Tertuntun (Indivully
Pescribed Instruction)
Sistem
pembelajaran ini didasarkan pada prinsip-prinsip pembelajaran terprogram.
Setiap siswa diarahkan pada program belajar masing-masing berdasarkan rencana
kegiatan belajar yang telah disiapkan oleh guru atau guru bersama siswa
berdasrkan tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan dan dirumuskan secara operasional.
Rencana kegiatan ini berkaitan dengan materi pelajaran yang harus dipelajari
atau kegiatan yang harus dilakukan siswa.
Metode yang digunakan dalam pengajaran Individual :
a.
Metode Tanya Jawab
Untuk
mencipatakan kehidupan interaksi belajar mengajar perlu guru menimbulkan metode
Tanya jawab atau dialaog, ialah suatu metode untuk memberi motivasi pada siswa
agar bangkit pemikirannya untuk bertanya selama mendengar pelajaran .
Metode
Tanya jawab ialah suatu cara penyajian bahan pelajaran melalui bentuk
pertanyaan yang perlu dijawab oleh anak didik. Dengan metode ini, antara lain
dapat dikembangakan keterampilaan mengamati, menginterprestasi,
mengklasifikasi, membuat kesimpulan dan menerapkan.
Penggunaan
metode Tanya jawab bermaksud memotivasi anak didik untuk bertanya selama proses
belajar mengajar. Metode Tanya jawab mempunyai tujuan agar siswa dapat mengerti
atau mengingat ingat tentang apa yang dipelajari.
1.
Metode Tanya jawab ini layak dipakai bila dilakukan :
a.
sebagai pengulang pelajaran yang telah lalu
b.
sebagai selingan dalam menjelaskan pelajaran
c.
Untuk merangsang siswa agar perhatian mereka terpusat pada
masalah.
2.
Metode Tugas
Metode
tugas adalah metode penyajian bahan dimana guru memberikan tugas tertentu agar
siswa melakukan kegiatan belajar. Masalah tugas yang dilaksanakan oleh siswa
dapat dilakukan didalam kelas, dihalaman sekolah, dan diperpustaan ataupun
dirumah asalkan tugas itu dapat dikerjakan.
Metode
ini diberikan karena dirasakan bahan pelajaran yang terlalu banyak sementara
waktu sedikit. Tugas biasanya bisa dilaksanakan dirumah, disekolah, dan
diperpustakaan. Tugas bisa merangsang anak untuk aktif belajar, baik secara
individuala ataupun kelompok.
3. Metode Latihan
Metode latihan yang disebut juga metode
training merupakan suatu cara mengajar yang baik untuk menanamkan
kebiasaan–kebiasaan tertentu, juga sebagai sarana untuk memelihara
kebiasaan-kebiasaan yang baik. Sebagai suatu metode yang diakui banyak
mempunyai kelebihan, juga tidak disangkal bahwa metode latihan mempunyai
beberapa kelemahan. Maka dari itu guru yang ingin mempergunakan metode latihan
ini kiranya tidak salah bila memahami metode ini.
4. Metode Pembiasaan
Secara Etimologi pembiasaan asal katanya
adalah “biasa”. Dalam kamus besar bahasa Indonesia kata “biasa” adalah, lazim
dan umum, dalam kaitannya dengan metode pengajaran dalam pendidikan Islam,
dapat dikatakan bahwa pembiasaan adalah sebuah cara yang dapat dilakukan untuk
pembiasaan anak didik berfikir, bersikap dan bertindak sesuai dengan tuntunan
ajaran agama Islam.
Pembiasaan dinilai sangat efektif jika
pada penerapannya dilakukan terhadap peserta didik yang berusia anak-anak kecil
dari usia 3 – 11 tahun, karena anak seusianya memiliki rekaman ingatan yang
sangat kuat dan kondisi kepribadiannay yang belum matang sehingga mereka mudah
terlarut dalam kebiasaan-kebiasaan yang mereka lakukan sehari – hari. Tetapi
bukan tidak mungkin bila metode pemhajaran pembiasaan ini diterapkan pada
tingkat awal remaja dan remaja.
Oleh karen itu ada syarat – syarat dalam
pemakaian metode ini yaitu:
a.
Mulailah pembiasaan sejak dini
b. Pembiasaan hendaknya dilakukan secara kontinu
c.
Pembiasaan hendaknya diawasi secara ketat
d. Pembiasaan yang apa mulanya hanya bersifat mekanistis, hendaknya
secara berangsur berubah menjadi verbalistis.
5.
Metode Keteladanan
Keteladanan
dalam bahasa arab di sebut uswah, iswah, atau qudwah, qidwah yang berarti
perilaku baik yang dapar ditiru oleh orang lain (anak didik). Metode keteladanan
memiliki peranan yang sangat signifikan dalam upaya pencapaian keberhasilan
pendidikan.
Teknik yang digunakan dalam pembelajaran
individual adalah teknik bertanya dan memberi motivasi, menimbulkan rasa
keinginan tahuan seorang siswa.Sedangkan pendekatan yang tepat dalam
pembelajaran individual adalah pendekatan konstruksivisme, pendekatan masalah,
dan realistik.
Faktor – faktor yang mempengaruhi tipe
pengajaran individual, yaitu:
a.
Staf pengajar
Staf
pengajar berpengaruh dalam pengajaran individual pada siswa,diman apengajar
berfunsi sebagai pengarah dan motivator dalam proses belajar siswa.
b. Persoalan Penjadwalan
Sistem
penjadwalan dalam pengajaran sangat berpengaruh dalam pengajaran,dimana
terkadang siswa perlu diberikan kesempatan untuk menentukan sendiri
kapan,tentang apa,dan dimana ia belajar.
c. Kondisi Ruangan
Kondisi ruangan merupakan factor pendukung dalam
pengajaran,dimana kondisi ruangan perlu diperhatikan agar siswa nyaman dalam
proses belajar.
d.
Tujuan Pengajaran
Tentunya tujuan pengajaran sangat
diperlukan agar proses pembelajaran terarah bagi siswa,dan demi tercapainya
tujuan pengajaran siswa harus melalui tahap-tahap yang disesuaikan dengan
kebutuhan siswa tersebut.
e.
Perencanaan Keller
Perencanaan Keller terdiri atas
sebuah buku teks standard an sejumlah pedoman tertulis untuk belajar yang
dimana pedoman tersebut berisi tujuan instruksional tentang unit yang
dipelajari dan bertindak sebgai penghubung antara buku teks (materi buku)
dengan pertanyaan-pertanyaan.Tipe ini memberikan kesempatan bagi siswa untuk
memilih urutan (jalur) unit-unit yang dipelajarinya dengan kata lain yaitu
Bebas Terpimpin.
Tipe ini memberikan keleluasaan
kepada siswa untuk belajar sesuai dengan kecepatan dan siswa dapat meminta soal
tes dari bagian administrasi bila ia sudah siap untuk menempuhnya dan bila
hasil ulangannya tidak memuaskan ia dapat mengulangnya dengan soal tes yang
ekuivalen (remedial)sampai ia boleh pindah ke unit lain.
f.
Pengajaran Mini
Pelajaran mini atau “minicourse”
atau AT (Audio Tutorial) mulai dikembangkan sekitar tahun 1961 oleh
Samuel N.Postlet hwait dalam pelajaran botani di Universitas Purdue,di
Indiana,Amerika Serikat.Tipe ini terutama dipergunakan untuk ilmu pengetahuan
alam praktis seperti geologi atau biologi.Pelajaran mini umunya berupa
paket-paket kecil dengan media banyak,yang terdiri atas petunjuk untuk belajar
yang berisi tujuan instruksional khusus,rekaman komentar(penjelasan), slaids,
film, model, kaset,dan lain-lain.
Dalam pelajaran mini siswa tidak
belajar sesuai dengan kecepatannya,ia (terutama yang lemah)tidak dapat belajar
semaunya,ia harus lebih disiplin terhadap waktu yang telah diatur.Pad setiap
unit siswa belajar dibantu oleh gurunya,baik secara individual maupun
kelompok;ada diskusi.
Tujuan akhir dari desain instruksional adalah untuk
menghasilkan instruksi yang efektif. Bila tujuan ini tercapai, umumnya akan
menghasilkan pelajaran atau rangkaian pelajaran yang bisa disampaikan oleh
seorang guru atau dengan dimediasi bahan. Pelajaran yang dimediasi sering
disebut modul instruksional. Pelajaran atau modul umumnya direncanakan menjadi
durasi tertentu dalam hitungan menit, yang biasanya berarti bahwa setiap
kurikulum instruksional yang signifikan akan memerlukan lebih banyak daripada
satu pelajaran. Disini, kita akan membahas hubungan antar beberapa tujuan yang
berbeda dalam pelajaran dan pekerjaan dari peristiwa instruksi dalam membangun
pelajaran semacam itu. Sebagian besar karakteristik kemampuan manusia yang kita
bahas sebagai dasar untuk merencanakan pelajaran. Peristiwa ini
berlaku untuk merancang semua jenis pelajaran, terlepas dari wilayah hasil
pembelajaran yang dimaksudkan. Disini akan ditekankan variasi di antara
pelajaran karena sesuai dengan domain yang berbeda dengan hasil belajar.
Variabel pelajaran ini pertama kali dipertimbangkan dalam kaitannya dengan
implikasinya untuk merancang urutan instruksi dan kemudian sehubungan dengan
pembentukan kondisi pembelajaran yang efektif untuk domain yang berbeda dari
Hasil belajar.
Dalam merancang sebuah pelajaran, seseorang harus
terlebih dahulu memastikan bahwa kejadian pengajaran disediakan untuk. Selain
itu, perlu untuk mengklasifikasikan tujuan pasal dan atur agar kejadian
spesifik ditempatkan dalam urutan yang sesuai untuk pencapaian tujuan ini. Isi
acara, atau instruksional resep, kemudian ditulis sebagai isi pelajaran.
PERENCANAAN PERENCANAAN DAN MODUL
Seringkali, guru memilih daripada mengembangkan materi
pembelajaran. Dalam praktik Guru, sering "merancang seperti yang mereka
ajarkan" -yaitu, mereka mungkin merancang urutan pelajaran di muka tapi,
mungkin, jangan merancang semua pelajaran untuk kursus sebelumnya pembelajaran
dimulai. Karena keadaan praktis ini, guru cenderung merencanakan setiap
pelajaran hanya dengan detail yang cukup sehingga bisa "siap" untuk
setiap pelajaran karena mereka dapat berimprovisasi beberapa rincian saat
pelajaran berlangsung. Ini bukan sama sekali tidak diinginkan karena memberi
fleksibilitas kepada guru untuk mendesain ulang "di tempat" - yaitu
menyesuaikan prosedur dengan situasi instruksional dan memberi tanggapan kepada
peserta didik (Briggs, Gustafson, dan Tillman, 1991).
Pemanfaatan Modus instruksi kelompok kecil atau
individual memungkinkan prediksi yang lebih besar. Adaptasi terhadap kompetensi
masuk seseorang dan Tingkat pembelajaran diberikan dengan instruksi yang
memungkinkan diri mondar-mandir dan koreksi diri untuk setiap pelajar. Fungsi
ini dimungkinkan dalam les atau mode kelompok kecil dan dengan materi yang
memungkinkan percabangan oleh latihan siswa yang paling dibutuhkan dan
bermanfaat yang terkandung dalam materi instruksional. Percabangan seperti itu
terjadi pada beberapa modul pembelajaran dalam instruksi komputer, instruksi
yang dibantu komputer, atau sering digunakan tes diri yang memungkinkan pelajar
menggunakan instruksi secara adaptif.
Bahan Ajar Perorangan, Diri Sendiri, dan Adaptif
Materi pembelajaran individual, mandiri, dan adaptif
sering digunakan secara tidak sengaja, meskipun ada nuansa perbedaan dalam
maknanya. Kita tentukan instruksi individual seperti yang mempertimbangkan
kebutuhan siswa. Instruksi semacam itu dimulai dengan analisis keterampilan
pelajar, dan instruksi selanjutnya ditentukan berdasarkan kebutuhan individu
itu. Instruksi mandiri adalah ungkapan yang menyiratkan manajemen instruksional
oleh pelajar serta mediasi pengajaran. Misalnya, direkam video atau bahan
cetakan dapat digunakan baik dalam kelompok maupun instruksi yang serba cepat.
Meskipun dalam sistem instruksional yang serba bisa, pelajar dapat meluangkan
waktu sebanyak yang diperlukan untuk mencapai tujuan. Instruksi serba cepat
umumnya terkait dengan prosedur pembelajaran penguasaan, di mana prestasi dan
bukan waktu Mendikte tingkat kemajuan siswa melalui instruksi. Syarat Instruksi
adaptif biasanya mengacu pada bahan dan sistem manajemen yang terus memantau
kemajuan siswa dan mengubah isi instruksional berdasarkan kemajuan siswa
tersebut. Secara umum, instruksional adaptif melibatkan pencatatan dan
pengambilan keputusan yang kompleks dan difasilitasi oleh penggunaan komputer.
Namun, prosedurnya bisa dilakukan secara manual untuk individu atau kelompok
kecil. Jenis pengajaran ini bergantung pada beberapa ukuran pada bahan ajar
yang dimediasi karena semua siswa di kelas mungkin pada tahap pembelajaran yang
berbeda pada titik praticular manapun pada waktunya. Singkatnya, tujuan dari
desain instruksional adalah untuk menghasilkan sebuah pelajaran atau rangkaian
pelajaran yang mencakup pertimbangan sistem pengantaran yang digunakan serta
kebutuhan peserta didik. Sifat pelajaran akan sangat bergantung pada bagaimana
penggunaannya. Dalam sistem berbasis guru, rencana pelajaran sedikit banyak
tidak lengkap karena guru bisa mengisi kekosongan. Sebaliknya, individual atau
Instruksi sendiri mondar-mandir harus lebih hati-hati direncanakan dan
dikembangkan sejak saat itu Seringkali tidak ada bantuan guru segera yang
tersedia. Sisa dari bab ini akan berfokus pada bagaimana prinsip-prinsip desain
instruksional yang dijelaskan pada bab sebelumnya dapat diterapkan pada
pengembangan baik yang dipimpin oleh guru atau yang dimediasi pelajaran. Kedua
bentuk pengiriman pembelajaran ini mempertahankan penekanan yang kita miliki
ditempatkan pada tema sentral ini:
1. Mengklasifikasikan tujuan dengan menggunakan taksonomi
hasil belajar
2. Sequencing tujuan untuk memperhitungkan prasyarat
3. Termasuk kejadian instruksi yang sesuai yang
berlaku untuk semua domain hasil
4. Memasukkan ke dalam peristiwa pengajaran kondisi
khusus belajar yang relevan dengan domain tujuan dalam pelajaran Kita sekarang
beralih ke diskusi lebih lanjut tentang urutan instruksi dan kemudian ke acara
instruksional dan kondisi belajar. Bab ini diakhiri dengan diskusi tentang
langkah-langkah dalam perencanaan pelajaran dan sebuah contoh rencana pelajaran
yang menggabungkan bentuk model yang biasanya diadopsi oleh seorang guru
individual yang merancang dan melaksanakan instruksi tersebut.
ESTABUSHING SEQUENCE OF OBJECTIVES
Digambarkan analisis top-down keterampilan intelektual
dan pertimbangan hubungan fungsional di antara berbagai domain pembelajaran
yang dipimpinnya. Kami menunjukkan cara untuk membuat diagram hubungan ini
penggunaan peta kurikulum instruksional (ICM) dan menunjukkan bagaimana peta
tersebut dapat digunakan untuk mengidentifikasi tingkat kurikulum yang berbeda.
Dalam setiap ICM adalah urutan instruksi yang tersirat. Urutan itu didasarkan
pada prinsip-prinsip yang mendasari hubungan prasyarat hierarkis dan itu yang
menggambarkan urutan pembelajaran fasilitasi.
Merencanakan Urutan untuk Tujuan Kecerdasan
Intelektual
Kami memulai akun kami tentang perencanaan urutan
pelajaran dengan tujuan yang mewakili keterampilan intelektual. Keterampilan
bawahan yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan ini bisa diturunkan sebagai
hirarki pembelajaran. Anggaplah seseorang memang menginginkannya untuk
menetapkan keterampilan untuk mengurangkan seluruh jumlah dari berbagai ukuran.
Hirarki pembelajaran untuk tujuan ini mencantumkan 10 syarat, ditunjukkan
sebagai kotak dalam hirarki. Mari kita asumsikan bahwa kotak saya, sederhana
fakta pengurangan, mewakili pembelajaran di masa depan 'dicapai lebih awal dari
siswa. Guru sekarang perlu merancang sebuah pelajaran atau, mungkin lebih
mungkin, rangkaian pelajaran untuk memungkinkan peserta didik untuk mengurangi
keseluruhan angka mereka. Mungkin bertemu meskipun ada beberapa urutan
pengajaran keterampilan yang ditunjukkan dalam kotak II sampai X yang mungkin
berhasil, implikasi hierarki adalah bahwa deretan kotak paling bawah harus
diajarkan terlebih dahulu, lalu baris berikutnya yang lebih tinggi, dan
seterusnya. Mungkin juga disimpulkan bahwa urutan yang terjadi dalam urutan
numerik dari kotak II ke kotak X mungkin merupakan urutan yang paling efektif.
Singkatnya, hierarki begitu diatur sehingga mungkin ada pilihan dalam urutan
kotak dalam baris horizontal, namun tidak ada pilihan untuk melanjutkan dari
baris bawah ke atas, setidaknya ketika kita ingin mengadopsi satu urutan untuk
semua peserta didik dalam kelompok. Ini bukan untuk mengatakan bahwa seorang
siswa tidak dapat mempelajari tugas tersebut dengan urutan yang sama melanggar
aturan di atas. Jika seorang siswa belajar bahasa mungkin karena dia bisa
melakukan keterampilan di beberapa bidang kotak atau karena dia memiliki
strategi kognitif yang cukup untuk menemukan beberapa peraturan tanpa menerima
instruksi langsung dalam penerapannya.
Menentukan Titik Awal
Melanjutkan contoh belajar untuk mengurangi jumlah
keseluruhan, ada kemungkinan beberapa siswa mungkin telah mempelajari beberapa
prasyaratnya keterampilan dalam beberapa kotak. Seorang siswa mav alreadv dapat
melakukan keterampilan dalam kotak II dan III; yang lain mungkin bisa melakukan
II dan V. Jelas, satu perlu memulai instruksi "di mana setiap siswa
berada."
Menentukan Sequence of Lessons Seorang guru harus
memutuskan "berapa banyak" yang harus disertakan dalam setiap
pelajaran, serta urutan pelajaran, berikut implikasinya untuk urutan yang
dibahas lebih awal. Mungkin lebih mudah untuk mengajarkan beberapa
"kotak" sebagai single pelajaran; Kotak lain bisa digabungkan dalam
satu pelajaran.
Hirarki, kemudian, menyiratkan beberapa kemungkinan
urutan pelajaran yang efektif. Itu hubungan keterampilan yang menunjukkan
prasyarat penting perlu dipelihara dalam perencanaan urutan seperti itu-jika
tidak, tidak ada urutan tertentu yang tersirat. Bagaimana Guru dapat memilih
untuk memasukkan instruksi yang berhubungan dengan domain lain hasil ke urutan.
Seringkali, urutan pelajaran dibangun di sekitar sebuah tujuan ketrampilan
intelektual sedemikian rupa untuk memasukkan instruksi tentang tujuan informasi
verbal, sikap, dan strategi kognitif (Wager, 1977;
Briggs and Wager, 1981).
Pencapaian Keterampilan dalam Urutan
Perencanaan pelajaran yang dirancang untuk mencapai
keterampilan terakhir, XI, berisi anggapan bahwa setiap siswa akan menampilkan
penguasaan keterampilan prasyarat sebelum diminta untuk mempelajari
keterampilan yang lebih tinggi berikutnya. Misalnya, sebelum mengatasi skill X,
membutuhkan pinjaman ganda di kolom yang berisi nol, pasti begitu dipastikan
bahwa pelajar dapat melakukan ketrampilan VI dan VII, yang perlu dikurangkan
dalam kolom berurutan tanpa meminjam dan meminjam secara tunggal dan ganda.
Kolom Gagasan penguasaan harus dilakukan dengan keseriusan yang lengkap saat
seseorang berhadapan dengan keterampilan intelektual. Pelajaran harus dirancang
sedemikian rupa sehingga masing-masing Keterampilan prasyarat dapat dilakukan
dengan keyakinan sempurna oleh pelajar sebelum mencoba mempelajari keterampilan
yang lebih kompleks dalam hirarki. Tingkat yang lebih rendah belajar prasyarat
akan menghasilkan kebingungan, penundaan, percobaan yang tidak efisien dan
kesalahan paling banter, dan dalam kegagalan, frustrasi, atau penghentian usaha
untuk belajar lebih jauh dalam keadaan terburuk. Untuk alasan ini, kami
menyarankan agar siswa memilih urutannya tidak mungkin menjadi prosedur yang
paling efisien.
Ketentuan untuk Diagnosis dan Pembelajaran
Perencanaan pelajaran yang menggunakan hirarki
keterampilan intelektual juga dapat memberikan diagnosis kesulitan belajar.
Jika seorang siswa memiliki kesulitan untuk mempelajari keterampilan tertentu,
indikasi diagnostik yang paling mungkin adalah bahwa siswa tersebut tidak dapat
mengingat bagaimana melakukan satu atau lebih keterampilan prasyarat. Setiap
pelajaran yang diberikan dapat memberikan informasi diagnostik dengan
mewajibkan keterampilan prasyarat tersebut teringat. Jika satu atau lebih tidak
dapat ditarik kembali, maka pelajari kembali prasyarat ini harus dilakukan
Dengan demikian, penilaian penguasaan untuk keterampilan tertentu, yang terjadi
sebagai bagian dari pelajaran tentang keterampilan itu, dapat diikuti dengan
penilaian lebih lanjut terhadap keterampilan prasyarat, jika penguasaan tidak
tercapai. Setelah ini, ketentuan harus dibuat untuk "loop pembelajaran
kembali" dalam urutan pelajaran, yang memberi kesempatan kepada siswa
untuk belajar kembali dan untuk menampilkan penguasaan prasyarat yang
diperlukan sebelum melanjutkan.
Urutan dalam Hubungan dengan Strategi Kognitif
Karena strategi kognitif adalah rutinitas eksekutif
untuk pemrosesan informasi, seringkali sulit untuk memastikan apakah
keterampilan ini telah dipelajari. Biasanya, satu tidak dapat menentukan urutan
tertentu dari pembelajaran sebelumnya yang mengarah pada pencapaian strategi kognitif.
Yang harus diingat, bagaimanapun, adalah bahwa siswa sudah memiliki beberapa
jenis strategi kognitif pada saat instruksinya dimulai. Strategi ini berupa
aturan otomatis untuk memproses informasi baru. Ketika seseorang berbicara
tentang mengajarkan strategi kognitif baru, yang dimaksud adalah mengenalkan
siswa pada cara baru memproses informasi. Ini berarti bahwa mereka harus
belajar memodifikasi strategi yang ada atau hanya melupakannya dan menerapkan
strategi baru. Keterampilan prasyarat yang penting untuk pembelajaran strategi
kognitif seringkali merupakan keterampilan sederhana yang ditetapkan oleh
pembelajaran sebelumnya. Contohnya adalah (1) mengaitkan nama yang tidak
terkait dengan menggunakannya dalam sebuah kalimat, dan (2) memecahkan kompleks
masalah menjadi beberapa bagian. Strategi seperti ini biasanya dapat
dikomunikasikan melalui pernyataan lisan kepada pelajar. Selain itu, urutan
instruksi yang dirancang untuk memperbaiki strategi kognitif biasanya berbentuk
berulang kesempatan untuk penerapan strategi. Kejadian seperti itu mungkin
terjadi diselingi dengan instruksi yang memiliki hasil yang diharapkan dan
biasanya dibuat berulang pada periode waktu yang relatif lama. Dengan cara ini,
diharapkan perbaikan bertahap dalam penerapan strategi baru tersebut dapat
dilakukan. Di kasus strategi metakognitif, tampaknya tidak mungkin jumlah
peningkatan yang dapat diamati dapat terjadi dengan satu atau dua pelajaran
saja. Ketika strategi kognitif menjadi sasaran pengajaran, mereka sering
mengambil bentuk urutan langkah atau kegiatan yang akan dilakukan oleh pelajar
untuk membantu proses belajar peserta didik dengan cara baru. Contoh seperti
itu Prosedurnya adalah teknik SQ3R (Survey, Question, Read, Recite, Review)
untuk membaca materi teks (Robinson, 1970). Daftar langkah, dan penjelasan
Aktivitas di setiap langkah, berfungsi sebagai subrutin eksekutif, sama seperti
urutan langkah dalam keterampilan motorik berfungsi sebagai subrutin eksekutif.
Aktivitas instruksional, seperti yang telah disebutkan sebelumnya, membuat
siswa mempraktikkannya penerapan subrutin eksekutif. Sebagai siswa berulang
kali menerapkan prosedur selama periode waktu tertentu, kita harus mengharapkan
kinerjanya menjadi lebih otomatis dan cairan. Bagaimana kita bisa tahu kapan
siswa tersebut telah mengadopsi prosedur tersebut sebagai strategi kognitif?
Salah satu indikatornya mungkin berupa laporan sendiri; Yang lain mungkin
pengamatan langsung manipulasi teks terhadap siswa saat dia membaca. Namun,
indikator yang paling menonjol adalah penurunan waktu dan waktu peningkatan
akurasi pameran siswa antara aplikasi awal (while belajar) dan aplikasi
selanjutnya (setelah diadopsi). Adopsi berarti bahwa Strategi sekarang menjadi
bagian dari repertoar pengolahan informasi siswa dan itu bisa diterapkan secara
efisien dan efektif.
Merencanakan Urutan untuk Pembelajaran Informasi
Verbal
Syarat terpenting untuk pembelajaran informasi adalah
penyediaan konteks yang berarti dimana informasi yang baru dipelajari dapat
dimasukkan atau dengan mana ia dapat, dalam beberapa arti terkait Prinsip yang
berlaku untuk sekuensing agak berbeda tergantung pada apakah tujuannya
menyangkut mempelajari seperangkat nama (label), mempelajari fakta yang
terisolasi atau mempelajari arti bagian yang teratur secara logis.
Nama atau Label
Pembelajaran tentang serangkaian nama (seperti nama
beberapa pohon) difasilitasi oleh penggunaan struktur terorganisir yang
sebelumnya dipelajari, dimana pelajar ada di memori Berbagai struktur dapat
digunakan oleh pelajar untuk mengkodekan informasi yang baru diperoleh.
Pengkodeannya bisa berbentuk asosiasi sederhana, seperti saat kata Perancis
baru la dame dikaitkan dengan kata bahasa Inggris dame, yang karenanya menjadi
asosiasi bagi wanita. Terkadang, pengkodean mungkin melibatkan penggunaan
sebuah kalimat, seperti yang menghubungkan hak kanan dengan "di dalam
asrama bintang selalu benar". Seringkali juga, metode pengkodean mungkin
melibatkan penggunaan gambar visual, seperti yang akan terjadi jika pelajar
mengasosiasikan gambar gagak dengan nama seseorang, Crowe. Teknik mnemonik yang
melibatkan penggunaan gambar dan metode kata kunci ditinjau oleh Pressley,
Levin, dan Delaney (1982). Citra yang digunakan untuk pengkodean mungkin sangat
sewenang-wenang, seperti ketika seorang pembelajar menggunakan toko-toko di
jalan yang terkenal sebagai asosiasi untuk nama-nama baru yang diakuisisi yang
tidak memiliki apa-apa. Untuk dilakukan dengan toko-toko itu sendiri
(bandingkan Crovitz, 1970).
Jadi jelas bahwa pembelajaran nama atau label baru
pernah kita panggil sebelumnya jumlah terpelajar yang tersimpan dalam ingatan
peserta didik. Dalam informasi seperti ini Belajar, rasanya tidak masuk akal
bahwa konten spesifik pembelajaran terdahulu, menyiratkan urutan instruksi,
bisa direkomendasikan. Meskipun posisi untuk memudahkan pembelajaran label baru
dengan meresepkan beberapa "kode" tertentu Agar pelajar
menggunakannya, prosedur semacam itu pada umumnya kurang berhasil daripada
membiarkan pelajar menggunakan sistem pengkodeannya sendiri. Apa itu pelajar terutama
perlu dipelajari sebelumnya, selain dari berbagai struktur bermakna yang
mungkin sudah ada dalam ingatan, adalah "bagaimana cara mengkodekan."
Ini adalah strategi metakognitif tertentu. Kemungkinan jangka panjang Instruksi
yang dirancang untuk memperbaiki strategi semacam itu belum diselidiki.
Fakta Individu
Pembelajaran fakta individu, seperti yang mungkin
terjadi dalam bab teks sejarah, juga melibatkan proses pengkodean. Dalam kasus
ini, pengkodean biasanya adalah masalah menghubungkan fakta ke struktur
bermakna yang lebih besar - badan "terorganisasi" yang lebih besar
pengetahuan "yang telah dipelajari sebelumnya. Dua jenis prosedur tersedia
untuk urutan instruksional saat seseorang sedang berurusan dengan informasi
faktual. Keduanya mungkin harus dipekerjakan, dengan penekanan ditentukan oleh
faktor lain dalam situasi tersebut. Yang pertama adalah Sebelum belajar (secara
berurutan) tentang apa yang Ausubel (1968) sebut penyelenggara. Jika pelajar
adalah untuk memperoleh fakta tentang mobil, misalnya, bagian pengorganisasian
pertama-tama harus dipresentasikan yang menginformasikan pelajar tentang
kategori khas utama deskripsi mobil - gaya tubuh, mesin, bingkai, transmisi,
dan seterusnya. Fakta spesifik bisa dipelajari tentang mobil tertentu mengikuti.
Prosedur kedua, tidak sepenuhnya tidak terkait dengan yang pertama, melibatkan
penggunaan pertanyaan atau pernyataan untuk mengidentifikasi kategori utama
fakta yang mana pembelajaran yang diinginkan (bandingkan Frase, 1970; Rothkopf,
1970). Jadi, jika nama - nama Orang-orang yang dijelaskan dalam bagian sejarah
adalah informasi yang paling penting dipelajari, pengalaman sebelumnya dengan
pertanyaan tentang nama semacam itu di bagian contoh akan memudahkan belajar
dan mempertahankannya. Haruskah pelajaran memiliki tujuan menyebutkan tanggal,
maka tanggal dapat ditanyakan di bagian sebelumnya.
Informasi Terorganisir
Yang paling sering, sebuah tujuan dalam kategori
informasi lisan adalah harapan bahwa pelajar akan dapat menyatakan serangkaian
fakta dan prinsip dengan cara yang bermakna dan teratur. Misalnya, tujuan dalam
studi sosial mungkin jadilah untuk menggambarkan proses yang terlibat dalam
bagian tagihan oleh Kongres A.S..
Dalam kasus ini, skema kemungkinan akan mencakup
setidaknya langkah penting, seperti merancang RUU, memperkenalkan
undang-undang, dan sebagainya. Pembelajaran terorganisir
Informasi semacam ini juga tunduk pada prosedur
pengkodean yang dihubungi struktur yang sebelumnya dipelajari dalam ingatan
siswa. Anderson (1984) Ahli Taurat seperti struktur memori sebagai skema. Dia
mendefinisikan skema sebagai "abstrak
Harapan ini dianggap sebagai celah dalam pengetahuan
peserta didik struktur dimana informasi baru dapat diintegrasikan. Urutan dari
pengetahuan terorganisir harus memperhitungkan skema yang ada dimana
pengetahuan baru dapat dimasukkan. Guru harus menyusun informasi baru sehingga
disusun sesuai dengan apa yang sudah diketahui siswa. Contohnya dikutip dalam
karya Ausubel (1968), dimana dia berbicara tentang prosesnya "subsistensi
korelatif," terjadi ketika informasi tentang Buddhisme diperoleh setelah
apa yang sebelumnya telah dipelajari tentang agama yang berbeda, Buddhisme Zen
Artinya, saat belajar materi baru tentang Buddhisme, pelajar akan membandingkan
informasi baru dengan apa yang sudah dia ketahui tentang Zen Buddhisme Karena
informasi tentang keduanya serupa, itu termasuk dalam Zen Skema Buddhisme, yang
kemudian menjadi skema Buddhisme / Buddhisme Zen.
Merencanakan Urutan untuk Belajar Keterampilan Motor
Kemampuan yang merupakan prasyarat untuk belajar
keterampilan motorik adalah keterampilan bagian yang dapat membentuk
keterampilan untuk dipelajari dan subrutin eksekutif (aturan kompleks) yang
berfungsi untuk mengendalikan eksekusi mereka dalam urutan yang benar.
Tentu saja, kepentingan relatif kedua jenis
kebutuhan sebagian besar bergantung pada kompleksitas keterampilan itu sendiri.
Mencoba Mengidentifikasi keterampilan bagian untuk melempar anak panah,
misalnya, tidak mungkin mengarah pada rencana sekuensing yang berguna; namun
dalam keterampilan yang kompleks seperti berenang, berlatih Bagian keterampilan
sering dianggap sebagai pendekatan yang berharga. * Biasanya, pembelajaran
subrutin eksekutif ditempatkan pada urutan awal instruksi untuk keterampilan
motorik, sebelum berbagai keterampilan bagian sepenuhnya dikuasai Dengan
demikian, dalam belajar mengangkat pukulan yang ditembakkan, atlit pelajar Pada
tahap awal mendapatkan subrutin eksekutif mendekati garis, menggeser berat
badannya, menekuk lengan dan tubuhnya, dan mendorong tembakan, meskipun pada
tahap awal ini, penampilan gerakan kritisnya masih agak buruk. Bagian
keterampilan tertentu mav sendiri memiliki prasyarat penting.
Misalnya, dalam keterampilan menembaki sebuah senapan
pada sasaran, konsep konkret dari gambaran penampakan yang benar dianggap
sebagai keterampilan bawahan yang berharga untuk eksekusi.
Dari total aksi pemotretan sasaran. Dengan demikian,
ada rencana instruksi untuk motor keterampilan harus menyediakan tidak hanya
untuk latihan keterampilan part sebelumnya, jika ini sesuai, tetapi juga pada
beberapa kesempatan untuk urutan yang relevan dengan individu bagian
keterampilan itu sendiri.
Merencanakan Urutan untuk Pembelajaran Sikap
Seperti halnya kemampuan belajar lainnya, pembelajaran
atau modifikasi sebuah sikap memanggil entitas yang sebelumnya diakuisisi dalam
ingatan peserta didik. SEBUAH
Sikap positif terhadap membaca puisi, misalnya, hampir
tidak dapat terbangun tanpa pengetahuan tentang puisi tertentu di bagian
peserta didik atau tanpa beberapa keterampilan bahasa yang terlibat dalam
menafsirkan makna tulisan puitis. Jadi, untuk banyak sikap yang belajar di
sekolah adalah contoh Dengan memperhatikan, perencanaan urutan instruksional
harus mempertimbangkan jenis pembelajaran prasyarat ini.
Dasar untuk urutan instruksional yang bertujuan untuk
membangun suatu sikap dapat ditemukan dalam informasi verbal dan keterampilan
intelektual tertentu yang menjadi bagian dari tindakan pribadi yang diharapkan
oleh guru sebagai pilihan pelajar.
hasil instruksi Jika pelajar memiliki sikap positif
untuk bergaul dengan orang-orang dari ras berbeda dari dirinya sendiri, sikap
seperti itu harus didasarkan atas informasi tentang apa ini berbagai
"asosiasi" (plaving games dengan, bekerja dengan, makan bersama, dan
sebagainya) adalah tentang. Atau jika pelajar adalah untuk memperoleh sikap
positif terhadap metode sains, ini harus berbasis atas beberapa kemampuan
(keterampilan) penggunaan beberapa metode ini. Urutan instruksional untuk
belajar suatu sikap, kemudian, sering dimulai dengan pembelajaran ketrampilan
khusus dan informasi lisan yang relevan dengan sikap itu. Ini berjalan kemudian
untuk pengenalan prosedur yang terlibat dalam pembentukan positif atau
kecenderungan negatif yang merupakan sikap itu sendiri, seperti yang dijelaskan
di Bab 5. Karena pembelajaran sikap mesti menuntut pembelajaran ketrampilan
intelektual sebelumnya dan Informasi verbal, seringkali perlu mempertimbangkan
interaksi domain pembelajaran seperti yang dijelaskan oleh Martin dan Briggs
(1986). Interaksi ini dapat dianalisis dengan cara "jalur audit,"
dimana sikap yang akan diperoleh terkait dengan hal lainnya keterampilan yang
memudahkan perolehannya. Jejak audit mungkin mencakup sikap, informasi verbal,
atau keterampilan intelektual lainnya, dan ini memberikan panduan untuk
sequenc- pengalaman yang mengarah pada perubahan sikap.
Bila metode pemodelan manusia digunakan untuk
modifikasi sikap, langkah prasyarat lain dalam urutan mungkin diperlukan.
Karena "pesan" yang mewakili sikap perlu dipresentasikan oleh sumber
yang dihormati (biasanya seseorang), mungkin dalam beberapa hal diperlukan
untuk membangun atau membangun menghormati orang ini Seorang ilmuwan yang saat
ini terkenal tidak mungkin memerintahkan
Hormatilah ilmuwan terkenal, seperti Einstein; dan
Einstein, sebagai model foto, lebih mungkin dihormati jika pelajar mengetahui
prestasinya
PERENCANAAN PELAJARAN UNTUK HASIL PEMBELAJARAN
Urutan kemampuan yang dicontohkan oleh hirarki
pembelajaran (untuk keahlian mendahulukan) atau oleh serangkaian prasyarat yang
diidentifikasi (untuk jenis lain dari
hasil) digunakan sebagai dasar untuk merencanakan
serangkaian pelajaran. Implikasi yang dimilikinya untuk merancang satu
pelajaran adalah satu atau beberapa persyaratan prasyarat atau pendukung perlu
tersedia bagi pelajar. Jelas, meskipun,
Ada lebih dari ini untuk perencanaan setiap pelajaran.
Bagaimana siswa melanjutkan dari sudut pengetahuan tentang pengetahuan atau
keterampilan bawahan sampai mendapatkan kemampuan baru? Interval ini, dimana
Pembelajaran aktual terjadi, diisi dengan jenis acara instruksional. Peristiwa
ini meliputi tindakan yang dilakukan oleh siswa dan guru untuk mewujudkan
pembelajaran yang diinginkan.
Acara Instruksional dan Kondisi Belajar yang Efektif
Tujuan paling umum untuk apa yang kita sebut peristiwa
pengajaran adalah mengatur kondisi eksternal pembelajaran sedemikian rupa untuk
memastikan
pembelajaran itu akan terjadi. Acara instruksional
biasanya digabungkan ke dalam
pelajaran individu Secara umum, peristiwa ini berlaku untuk
semua jenis pelajaran, terlepas dari hasil yang diinginkannya. Sama seperti
yang kita temukan perlu
menggambarkan kondisi sekuensing tertentu yang
berkaitan dengan pembelajaran yang berbeda, kami juga menyadari adanya
kebutuhan untuk memberikan laporan tentang kejadian-kejadian tertentu itu
mempengaruhi keefektifan belajar dari pelajaran yang memiliki berbagai jenis
hasil. Hal ini memungkinkan untuk mengingat kembali kondisi pembelajaran untuk
berbagai kelas hasil belajar dan menerapkan prinsip-prinsip ini pada penataan
pembelajaran yang efektif dalam pelajaran. Kondisi ini dijelaskan secara lebih
rinci oleh Gagne (1985). Tabel 12-1 dan 12-2 dimaksudkan untuk
mengkonsolidasikan beberapa gagasan yang memengaruhi desain pelajaran Pertama,
mereka menganggap kerangka umum peristiwa instruksional, tanpa mengembangkan
gagasan ini lebih jauh. Kedua, mereka menggambarkan prosedur untuk menerapkan
kondisi belajar yang optimal secara khusus relevan untuk setiap kelas tujuan
pembelajaran. Ini telah disebut sebagai kondisi pembelajaran eksternal. Dan
ketiga, mereka memperhitungkan masalah urutan pelajaran dengan mewakili
penarikan prasyarat capabili-
Hubungan yang sesuai untuk setiap jenis hasil belajar
sebagai kondisi internal. Hasil dari latihan pengintegrasian ini adalah semacam
daftar kondisi khusus untuk pembelajaran efektif yang perlu dimasukkan ke dalam
jenderal kerangka acara instruksional untuk mencapai tujuan pembelajaran. Dapat
dicatat bahwa daftar periksa hanya berkaitan dengan kejadian instruksi : event 3,
merangsang mengingat pembelajaran sebelumnya; acara 4, mempresentasikan
rangsangan; acara 5, memberikan bimbingan belajar; dan acara 6, memunculkan
kinerja.
Pelajaran untuk Tujuan Kecerdasan Intelektual
Kondisi belajar yang efektif untuk jenis keterampilan
intelektual yang mungkin ada tercermin dalam perencanaan peristiwa pelajaran
yang diberikan pada Tabel 12-1. Setiap daftar Kondisi yang diberikan di kolom
kedua diawali dengan pernyataan yang menunjuk mengingat kemampuan yang
sebelumnya dipelajari, seringkali dari pelajaran sebelumnya secara berurutan.
Daftar kemudian dilanjutkan dengan kondisi yang akan tercermin dalam hal
lainnya acara instruksional (seperti menyajikan stimulus, memberikan bimbingan
belajar, memunculkan kinerja siswa, dan sebagainya). Dalam menafsirkan
informasi di kolom ini, pembaca merasa berguna untuk meninjau keadaan kondisi
pembelajaran internal dan eksternal untuk jenis objek.
Pelajaran untuk Tujuan Strategi Kognitif
Kondisi yang dirancang untuk mempromosikan
pembelajaran efektif untuk strategi kognitif adalah tercantum di bagian bawah
Tabel 12-1. Daftar ini berkaitan dengan pembelajaran
strategi belajar, mengingat, dan pemecahan masalah.
Kondisi eksternal dan internal untuk mempelajari strategi kognitif telah
dibahas.
Pelajaran untuk Tujuan Informasi, Sikap, dan
Keterampilan Motor Desain acara instruksional untuk pelajaran memiliki salah
satu dari berikut ini tujuan - informasi lisan, sikap, atau keterampilan
motorik - perlu mempertimbangkan kondisi khusus untuk pembelajaran efektif yang
ditunjukkan dalam korespondensi-
bagian dari Tabel 12-2. Daftar ini berasal dari
diskusi yang lebih lengkap
kondisi belajar.
LANGKAH-LANGKAH DALAM PERENCANAAN PELAJARAN
Dengan asumsi bahwa seorang guru telah mengatur kursus
ke dalam satuan atau topik utama dan telah merencanakan lebih lanjut urutan
pelajaran untuk masing-masing, bagaimana guru itu melanjutkan dengan desain
satu pelajaran? Setelah penekanan kami pada penyediaan acara instruksi termasuk
penggabungan kondisi pembelajaran yang efektif untuk domain yang disebutkan
dalam tujuan pelajaran, kami menyarankan agar para guru menggunakan perencanaan
lembar yang akan berisi unsur berikut:
1. Pernyataan tujuan pelajaran dan klasifikasi untuk
domain
Hasil belajar
2. Daftar acara instruksional yang akan dipekerjakan
3. Daftar media, materi, dan aktivitas dimana setiap
acara menjadi
ulung
4. Catatan tentang peran dan aktivitas guru (resep
untuk instruksi)
Lembar perencanaan semacam itu mungkin mencantumkan
tujuan di atas, dengan kolom untuk masing-masing dari tiga item lainnya dalam
daftar sebelumnya. Setelah lembar perencanaan selesai, naskah untuk pelajaran
bisa ditulis. Contoh yang lengkap lembar perencanaan pelajaran ditunjukkan pada
Tabel 12-3. Kami sekarang akan menjelaskan beberapa varietas keadaan yang
berkaitan dengan empat elemen dari lembar perencanaan.
Tujuan Pelajaran Seperti telah disebutkan sebelumnya,
beberapa pelajaran mungkin memiliki satu tujuan, sementara yang lain mungkin
termasuk beberapa tujuan yang terkait. Misalnya,
pelajaran yang disajikan dalam Tabel
12-3 adalah untuk satu tujuan yang muncul dalam
hirarki pembelajaran lebih
tujuan kecerdasan intelektual yang kompleks. Dalam
menyampaikan pelajaran ini, bagaimanapun,
guru harus memperhatikan prasyaratnya dan memberikan
transfer ke selanjutnya
tujuan. Tujuan pelajaran adalah memberikan sebagian
instruksi yang dibutuhkan
untuk mencapai tujuan terpadu, seperti yang dibahas di
Bab 9, terkait dengan
unit instruksi.
Mendaftarkan Acara Instruksional Peristiwa instruksi
didasarkan pada urutan hipotesis tahap internal pemrosesan informasi. Tujuan
dari kejadian eksternal adalah untuk
memfasilitasi proses internal; Oleh karena itu, masuk
akal untuk menyajikannya secara berurutan. Namun, acara tersebut hanya untuk
dijadikan pedoman pengembangan
pelajaran. Mungkin tidak perlu menyertakan semua
kejadian atau mempresentasikannya di a
urutan linier yang ketat. Saat merancang pelajaran,
guru harus mempertimbangkan keduanya
kecanggihan peserta didik sebagai peserta didik dan
sifatnya sendiri
tujuan pelajaran. Dalam keadaan tertentu, mungkin
diinginkan untuk menghabiskan seluruh periode pada satu acara instruksional,
misalnya, membangun
motivasi untuk serangkaian pelajaran. Atau, satu jam
mungkin diminta untuk menyajikan tujuan yang kompleks kepada siswa, termasuk
diskusi atau demonstrasi
bagian bawahannya, masing-masing peserta didik
meresponsnya
cara yang ditentukan. Dalam kursus di mana tujuan
ditulis di tingkat unit tanah tidak pada tingkat pelajaran, mungkin masuk akal
untuk menghabiskan satu jam atau lebih
mengklarifikasi sifat yang tepat dari kinerja yang
diharapkan untuk setiap unit sebelum
Instruksi aktual untuk unit dilakukan. Jenis
organisasi ini mungkin
sesuai untuk kursus yang hasil utamanya adalah
keterampilan memecahkan masalah. Meski peristiwa instruksi merupakan elemen
penting dalam disain
Model yang disajikan dalam buku ini, juga sangat
penting bahwa cara kejadian seperti itu direncanakan mencerminkan perkiraan
kemampuan terbaik dan
memasuki kompetensi siswa.
Memilih Bahan dan Kegiatan Media
Pada langkah ini dalam desain instruksional,
perbedaan terbesar dapat dicatat
antara merancang pengajaran yang dipimpin oleh guru
dan yang dimediasi. Instruksi yang dimediasi mewajibkan perancang untuk
menghadiri semua acara pengajaran serta cara mereka akan dioperasionalkan dalam
materi. Model untuk Instruksi yang dipimpin oleh guru jauh lebih tidak tepat
karena guru mengisi kekosongan. Namun, prinsip dasar perencanaan kejadian
eksternal instruksi sama pada keduanya. Pertanyaan yang harus dijawab adalah,
"Bagaimana saya capai? Acara ini bersama para siswa ini? "Misalnya
saat mempertimbangkan acara mendapatkan perhatian untuk tujuan di unit genetika
dalam sains untuk kaum muda Anak-anak, guru mungkin berpikir, "Jika saya
bisa menemukan film 16 mm yang menunjukkan
Berbagai jenis hewan yang ciri khasnya begitu
berlebihan sehingga membuat mereka lucu, saya bisa menggunakan ini untuk
mengarah pada tujuan bagaimana gen menentukan perbedaan ini. "Jika film
semacam itu tidak dapat ditemukan, guru akan memikirkan beberapa cara lain.
Untuk mencapai acara tersebut, perancang mengembangkan modul yang dimediasi
pada topik yang sama harus melalui proses yang sama menentukan bagaimana acara
akan selesai. Dalam beberapa kasus, ada materi yang Bisa ditemukan yang bisa
dimasukkan ke dalam modul; Namun, paling banyak Kasus, membutuhkan produksi
bahan baru.
Contoh Lembar Perencanaan Lesson untuk Berbagai Jenis
Hasil Belajar
Tabel 12-3, yang dipaparkan sebelumnya, menunjukkan
contoh bagaimana kejadian instruksi dapat ditafsirkan untuk pelajaran yang
mengajarkan konsep konkret. Tabel 12-4 sampai 12-8, pada beberapa halaman
berikutnya, tunjukkan contoh Lembar Perencanaan Lesson
untuk jenis pembelajaran lainnya termasuk: konsep,
aturan, pemecahan masalah,
dan informasi dan sikap verbal. Perhatikan bagaimana
kondisi pembelajaran seperti disajikan pada Tabel 12-1 dan 12-2 telah
dimasukkan dalam resep.
TUJUAN INTEGRATIF: PERENCANAAN PELAJARAN UNTUK TUJUAN
MULTIPLE
Terjadinya berbagai tujuan sering terjadi dalam
pengajaran. Seperti sebelumnya
disebutkan, pelajaran tunggal paling sering hanya
bagian dari unit yang lebih besar. Instruksi harus melibatkan siswa dalam
tujuan komprehensif seperti yang oleh Gagne dan Merrill (1990) memanggil
perusahaan. Misalnya, setelah instruksi, siswa mungkin diharapkan untuk
menunjukkan pengetahuan baru melalui tindakan "yang menunjukkan" atau
mendiskusikan secara elaboratif. Tujuan "mungkin memerlukan integrasi
berbagai jenis hasil belajar termasuk informasi lisan, sikap, konsep dan
peraturan terkait. Peta kurikulum instruksional adalah salah satu cara untuk
menganalisis tujuan integratif menjadi tujuan komponen dari domain yang
berbeda. Persoalan yang akan dibahas di sini adalah bagaimana merancang
pelajaran untuk berbagai tujuan
Domain yang berbeda berbeda dari desain pelajaran
untuk tujuan tunggal. Seperti yang dibahas
Untuk menggambar peta instruksional dalam proses
perencanaan urutan pelajaran Peta ini dapat ditarik pada beberapa tingkat,
sesuai ke tiga tingkat di mana pertanyaan tentang sekuensing muncul dalam
perancangan kursus. Peta semacam itu dapat menunjukkan integrasi tujuan dari
domain yang berbeda dan secara visual menggambarkan peran masing-masing tujuan
dalam mendukung pencapaian tujuan yang lebih besar. Gambar 12-2
mengilustrasikan sebuah peta untuk pelajaran mengenai warisan ciri-ciri terkait
seks. Dalam pelajaran ini, mudah untuk melihat bahwa instruksi tentang banyak
tujuan dapat digabungkan dan dipresentasikan bersama. Sebagai contoh, guru
mungkin mengelompokkan tujuan informasi (A dan B) dan menyajikan konten yang
terkait keduanya pada satu waktu.
Merencanakan Kegiatan Instruksional
Perbedaan utama dalam perencanaan beberapa pelajaran
obyektif dan tunggal adalah bahwa guru atau perancang harus merencanakan
bagaimana menyajikan kejadian instruksi untuk berbagai tujuan. Model
perancangan pelajaran ini mengusulkan bahwa guru atau perancang akan menentukan
strategi untuk pelajaran dengan mengelompokkan tujuan dan kejadian pengajaran
menjadi kegiatan pembelajaran. Instruksional Aktivitas adalah sesuatu yang
dilakukan guru, atau memiliki siswa, mewakili satu atau lebih peristiwa
pengajaran untuk satu atau lebih tujuan. Misalnya, menunjukkan film adalah
kegiatan instruksional. Tujuan dari kegiatan itu mungkin untuk memotivasi
pelajar, menyajikan konten, atau keduanya. Begitupun, permainan di mana kelas
dibagi menjadi dua tim yang bersaing dalam menerapkan peraturan yang dipelajari
dalam pelajaran Berikan motivasi dan acara "dapatkan kinerja." Sebuah
pelajaran, kemudian, terdiri dari satu atau lebih kegiatan instruksional yang
terjadi pada yang telah ditentukan kerangka. Kerangka kerja yang paling umum
untuk pelajaran yang dipimpin guru adalah periode waktu yang telah ditentukan
sebelumnya. Bahkan pelajaran yang dimediasi umumnya direncanakan
selesai dalam kurun waktu tertentu. Tugas kita, dalam
kasus ini, adalah untuk mengetahui aktivitas instruksional apa yang akan
terjadi selama periode waktu ini.
Pada Gambar 12-3, keterampilan masuk 1 sampai 5
berasal dari pelajaran sebelumnya. Mereka harus ditinjau ulang untuk
meningkatkan retensi dan transfer (acara 9) untuk keterampilan dan keterampilan
tersebut ingatlah prasyarat (acara 3) untuk tujuan sasaran pelajaran.
Pengelompokan acara dilambangkan dengan elips yang melampirkan kejadian
instruksi itu harus dianggap sebagai kegiatan instruksional. Gambar 12-3
menunjukkan kelompok, dimana kegiatan instruksional dilambangkan dengan huruf
kecil (a) sampai (n) di bagian bawah gambar, sepanjang garis yang menunjukkan
waktu. Seperti yang terlihat dari gambar, aktivitas belajar pertama, (a),
terdiri dari acara instruksional 1, mendapatkan perhatian. Kegiatan
instruksional berikutnya pada garis waktu, (b), mengingat keterampilan
prasyarat yang dipelajari dalam pelajaran sebelumnya. Untuk ini keterampilan,
aktivitas yang terlibat mencerminkan peristiwa 9, meningkatkan retensi dan
transfer. Kegiatan ketiga, (c), menginformasikan peserta didik tentang sifat
tujuan A dan B. Perhatikan bahwa ini adalah tujuan informasi verbal. Dalam
pelajaran ini, mereka direncanakan untuk diajar terlebih dahulu, bukan karena
mereka dibutuhkan sebagai prasyarat, tapi karena mereka memberikan konteks yang
mendukung dengan membantu transfer ke pembelajaran tujuan keterampilan
intelektual utama (C, D, dan E). Kegiatan selanjutnya, (d), menyajikan
rangsangan untuk tujuan informasi A dan B. Terkadang, ada gunanya memikirkan
sekelompok peristiwa untuk satu tujuan sebagai aktivitas instruksional tunggal,
seperti yang diilustrasikan untuk kejadian 5 sampai 7 (f), di mana memberikan
panduan pembelajaran, memunculkan kinerja, dan memberikan umpan balik
direncanakan akan terjadi dalam waktu singkat.
Sequencing Kegiatan Instruksional dan Memilih Media
Perhatikan bahwa pelajaran yang digambarkan oleh
matriks objektif / waktu dalam Gambar
12-3 dapat digambarkan sebagai rangkaian aktivitas
instruksional yang dilambangkan dengan huruf kecil (a) sampai (n). Dalam
kerangka pelajaran, seorang guru akan memiliki cukup banyak garis lintang
sehubungan dengan peristiwa mana yang harus disertakan,
yang harus dihindari, dan mana untuk menggabungkan
seluruh tujuan. Namun, sequencing
pertimbangan yang berkaitan dengan keterampilan
prasyarat menunjukkan bahwa strategi yang lebih efisien adalah konten yang
pertama akan disajikan untuk tujuan yang mendukung, diikuti oleh konten yang
terkait dengan sasaran sasaran.
Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, resep yang
menggambarkan apa yang akan terjadi
dalam setiap kegiatan tertulis di lembar perencanaan
pelajaran sebagai waktu-
matriks tujuan sedang dibangun. Pada titik inilah
pertimbangan harus
diberikan kepada kemampuan media dan sistem pengiriman
untuk menyediakan acara
merupakan pelajaran. Konsisten dengan model kita
adalah prinsip bahwa
Keefektifan pengajaran bergantung pada kemampuan media
yang dipekerjakan untuk menyediakan kejadian pengajaran, dengan cara yang
dibutuhkan oleh jenis hasil belajar dan karakteristik pelajar. Fakta bahwa
sebagian besar penelitian media menunjukkan tidak ada perbedaan yang signifikan
berkenaan dengan pembelajaran dapat berbicara lebih banyak kepada
Kurangnya pertimbangan dalam penelitian saat perbedaan media itu penting
(yaitu, ketika kejadian yang dipresentasikan membuat perbedaan yang signifikan)
daripada apakah ada perbedaan media (Reiser dan Gagne, 1983). Jika resepnya dituliskan
sebelum media instruksi dipilih, desain Mereka ditinggalkan dengan garis
lintang yang luas dimana mereka dapat membuat keputusan media. Ini telah
disebut sebagai model open-media desain instruksional (Briggs dan Wager, 1981).
Sebaliknya, jika media sudah dipilih sebelumnya, resepnya harus
mempertimbangkan keterbatasan media untuk menyediakan * kegiatan yang merupakan
kegiatan belajar. Tabel 12-9 memberikan contoh singkat tentang bagaimana
masing-masing resep bisa ditulis dalam sistem pengantar kelas)dengan seorang
guru Jika pelajaran ini dimediasi, mungkin guru dan filmnya bisa dimediasi
Mungkin diganti dengan rekaman video, dan dalam kasus ini, resepnya akan
terlihat sangat sama. Jika pelajaran itu dimediasi dalam bentuk cetak Namun
teks, resepnya perlu diubah secara substansial. Keputusan media menjadi sangat
penting saat menghadiri konferensiapakah pembelajar adalah pembaca atau
nonreader dan persyaratan konsekuen untuk tampilan visual, latihan, dan umpan
balik.
PERAN DAN KEGIATAN DALAM PEMBANGUNAN INSTRUKSIONAL
Ada banyak materi instruksional yang dimediasi di
pasaran. Ke guru, barang-barang ini hanya memiliki nilai dalam hal kegiatan
belajar yang mana
mereka mungkin berlaku Untuk memanfaatkan materi ini
dengan sebaik-baiknya, guru perlu mempelajarinya dengan cermat. Dia harus
mencatat terutama kejadian instruksional yang mereka lakukan tidak muncul untuk
diatasi sehingga rencana dapat dibuat untuk kejadian semacam itu dalam
pelajaran rencana. Tujuan kegiatan guru ini adalah untuk menghasilkan rencana pelajaran
di mana semua peristiwa instruksional yang dibutuhkan terjadi. Saat bahan ajar
baru dikembangkan, desain instruksional dan ahli materi pelajaran (UKM) bekerja
sama dalam menganalisis tugas belajar, menentukan sistem penyampaian yang
tepat, dan menyiapkan resep untuk pelajaran dalam sebuah program studi Dalam
proses ini, baik perancang maupun UKM meninjau materi yang ada dan menilai
kesesuaiannya untuk digunakan dalam tentu saja. Kemudian, seperti guru, mereka
berusaha menentukan mana acara, kegiatan belajar, dan pelajaran materi yang ada
ini. Pada titik ini, perancang harus menentukan bagaimana kejadian atau
kegiatan yang tersisa dapat dilakukan disediakan Karena produk dari sebagian
besar proyek desain instruksional dimediasi instruksi, perancang harus
memperhatikan bagaimana media yang dipilih dapat digunakan secara tepat untuk
mendukung acara instruksional. Kejadian instruksi dan kondisi belajar, seperti
yang dicontohkan pada Tabel 12-1 dan 12-2, memberikan panduan untuk perancangan
pelajaran. Hal ini tidak mungkin proses
Memilih atau mengembangkan kegiatan belajar dapat
ditentukan dengan lengkap
ketepatan bahwa perancangan pelajaran dapat dikurangi
menjadi "resep buku masak". Pelajaran Desain bagian seni dan sains.
Namun, kejadian instruksi memberikan fokus yang membantu baik konstruksi
pelajaran maupun revisi setelah formatif evaluasi, berdasarkan apa yang
sekarang kita ketahui tentang belajar.
Permasalahan :
Bagaimanakah cara
memaksimalkan/mengefektifkan waktu pembelajaran yang terkadang kurang pada
suatu pembelajaran ? dan bagaimanakah cara menentukan rancangan pembelajaran
bagi seseorang/individu ?
Dalam pemberlakuan kurikulum dikenal pula istilah co kurikuler dan ektra kulikuler. kalau co kurikuler ini ialah sebuah kegiatan yang dapat dirancang oleh guru berisi muatan materi yang dilakukan diluar jam sekolah yang berguna untuk mengoptimalisasi capaian pembelajaran dan meminimalisir dampak keterbatasan waktu pembelajaran dikelas. sedangkan ekstra kurikuler ialah kegiatan yang dirancang diluar jam sekolah dengan muatan materi yang tidak berhubungan/terikat dengan muatan materi pembelajaran dikelas, umumnya ektrakulikuler ini mengarah pada keterampilan peserta didik.
BalasHapusSehingga dengan kata lain, untuk memaksimalkan/mengefektifkan waktu pembelajaran yang terkadang kurang pada suatu pembelajaran dapat dilakukan guru, salah satunya dengan merancang sebuah desain instruksional kegiatan co kurikuler yang bersifat mandiri maupun berkelompok, bermuatan materi pembelajaran, dapat ditunjang dengan multimedia seperti lkpd/lks, modul, internet dan multimedia lainnya.
Cara memaksimalkan/mengefektifkan waktu pembelajaran adalah dengan meningkatkan partisipasi siswa dalam kegiatan pembelajaran dengan cara menggunakan berbagai metode mengajar, memberikan materi pelajaran yang jelas dan tepat sesuai dengan tujuan pembelajaran, mengusahakan agar pembelajaran lebih menarik minat siswa. Untuk itu guru harus mengetahui minat siswa dan mengaitkannya dengan bahan pembelajaran.
BalasHapusKemudian cara menentukan rancangan pembelajaran bagi individu yaitu yang pertama dengan merumuskan tujuan khusus selanjutnya menentukan target yang ingin dicapai dari sebuah materi yang ingin dicapai dan memilih metode pembelajaran yang tepat.
cara memaksimalkan/mengefektifkan waktu pembelajaran yang terkadang kurang pada suatu pembelajaran yaitu dengan cara les tambahan diluar jam sekolah.
BalasHapuscara menentukan rancangan pembelajaran bagi seseorang/individu yaitu dengan membuat tujuan pembelajaran yang tepat dan efektif,setelah itu membuat target-target yang akan dicapai untuk terpenuhinya tujuan , memilih metode yang tepat dan efektif.
dengan cara adanyanya pelajaran tambahan diluar sekolah.
BalasHapusmerancang tpembelajaran individu mulai dari, menyusun tujuan pembelajaran, materi,metode, orang yg mempelajarkan, dan evaluasi.
Cara memaksimalkan/mengefektifkan waktu pembelajaran adalah dengan meningkatkan partisipasi siswa dalam kegiatan pembelajaran bisa dengan cara memberikan belajar tambahan atau les kepada siswa.
BalasHapuscara menentukan rancangan pembelajaran bagi seseorang/individu yaitu dengan membuat tujuan pembelajaran yang tepat dan efektif,setelah itu membuat target-target yang akan dicapai untuk terpenuhinya tujuan , memilih metode yang tepat dan efektif.
Guru harus membuat desain pembelajaran yang efektif dengan alokasi wkt terukur. Guru harus mampu menentukan model, metode dan strategi pembelajaran yang efektif.
BalasHapusAgar metode ini bisa berlangsung secara efektif, guru perlu memperhatikan langkah-langkah sebagai berikut:
1) Tugas harus direncanakan secara jelas dan sistematis, terutama tujuan penugasan dan cara pengerjaannya. Sebaiknya tujuan penugasan dikomunikasikan pada peserta didik agar tahu arah tugas yang akan dikerjakannya.
2) Tugas yang diberikan harus dapat dipahami oleh peserta didik, kapan mengerjakannya, bagaimana cara mengerjakannya, secara individu atau kelompok dan lain-lain. Hal tersebut akan menentukan efektifitas penggunaan metode ini dalam pembelajaran.
3) Apabila tugas tersebut berupa tugas kelompok, perlu diupayakan agar seluruh anggota kelompok dapat terlibat secara aktif dalam proses penyelesaian tugas tersebut.
4) Perlu diupayakan guru mengontrol proses penyelesaian tugas yang dikerjakan oleh peserta didik. Jika tugas tersebut di selesaikan di luar kelas, guru bisa mengontrol proses penyelesaian tugas melalui konsultasi dari peserta didik.
5) Berikanlah penilaian secara operasional terhadap tugas-tugas yang dikerjakan peserta didik. Penilaian yang diberikan sebaiknya tidak hanya menitik beratkan pada produk, tetapi perlu dipertimbangkan pula bagaimana proses penyelesaian tugas tersebut. Penilaian hendaknya diberikaan secara langsung setelah tugas diselesaikan, hal ini dilakukan disamping menimbulkan minat dan semangat belajar peserta didik, juga menghindarkan bertumpuknya pekerjaan peserta didik yang harus diperiksa